Category: Pemahaman Alkitab


Kebaktian Umum GKJW Ngagel
Minggu, 24 Juni 2012, pukul 16.30 WIB
Materi Kotbah – oleh Pnt. Drs. Kristyan Dwijosusilo, M.Kp

THEMA : IMAN YANG BERANI MENGHADAPI RASA TAKUT.

Introitus :  ” Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).

Bacaan I          : Ayub 38 : 1, 8 – 11

Bacaan II         : 2 Korintus 5 : 14 – 17

Bacaan III        : Markus 4 : 35 – 40

Dijaman serba praktis dan cepat ini, banyak orang ingin sukses dengan cepat, mudah, dan tidak perlu usaha yang sulit. Seperti berjalan dijalan tol, kalau bisa tanpa halangan. Akan tetapi apakah orang yang berjalan di jalan tol pasti aman dan selamat ? Ternyata banyak kecelakaan yang terjadi di jalan tol. Ini memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya bahaya tetap ada dalam kehidupan kita. Orang yang hidup seperti dijalan tol adalah orang  yang tidak terbiasa mengalami berbagai tantangan, hambatan, dan masalah. Orang yang tidak terbiasa mengalami berbagai tantangan, hambatan, dan masalah maka hidupnya sangat rentan, mudah stress, cepat putus asa, bahkan ada yang ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Ini berarti segala tantangan, hambatan, dan masalah itu harus kita hadapi. Tetapi kenyataannya banyak orang sudah menyerah sebelum bertindak. Sama seperti jalan bergelombang yang sengaja dibuat dalam jarak tertentu di jalan tol dengan maksud untuk memberi kejutan bagi para pengemudi. Ketika melewati jalan gelombang memang tidak nyaman, tetapi itu penting untuk mengingatkan kita agar berhati-hati.

Dalam Markus 4:35-40 dicatat bahwa pada sore hari setelah mengajar orang banyak, Yesus dan murid-murid-Nya naik perahu untuk menyeberang. Singkat cerita di dalam perahu Yesus tidur, dan kemudian terjadilah angin ribut yang menggoncangkan perahu mereka, sehingga perahu mulai penuh dengan air.

Murid-murid Yesus begitu panik dan ketakutan luar biasa. Padahal Petrus mengenal danau itu, ia mengenal badai dan angin, karena Petrus adalah seorang nelayan. Tetapi semua murid pada hari itu begitu terkejut dan takut. Karena takut perahu akan tenggelam, para murid berusaha dengan keras untuk menyelamatkan diri. Ada yang mencoba untuk mengeluarkan air dari dalam perahu, ada yang mencoba untuk menurunkan layar agar angin tidak mempermainkan perahu, semua usaha dilakukan agar mereka bisa selamat. Ketika para murid berada dalam ketakutan, mereka tidak dapat berpikir dengan tenang dan berusaha dengan cara  apapun untuk mempertahankan dirinya. Akan tetapi semakin lama semakin nampak bahwa usaha para murid sia-sia. Air terus masuk ke dalam perahu, sedangkan angin ribut tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Melihat keadaan ini para murid nampaknya semakin putus asa dan panik.

Di tengah-tengah kepanikan dan keputus-asaan, mereka melihat satu sosok sedang tidur di dalam perahu. Ketika yang lain sedang bekerja keras agar perahu mereka tidak tenggelam, orang ini malah tidur di perahu.

Siapakah orang yang tidur ini? Tidak lain dan tidak bukan orang yang tidur itu adalah guru mereka sendiri, yaitu Tuhan Yesus. Mungkin dengan perasaan jengkel bercampur panik dan putus asa, para murid segera membangunkan Yesus dan berkata ”Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”. Mereka seolah-olah ingin berkata ”Guru, Kamu kok enak-enak saja tidur. Apa Guru tidak tahu kalau kita sebentar lagi mau mati? Ayo bantu kami untuk menjaga perahu ini agar tidak tenggelam!”. Jadi para murid menyalahkan Tuhan Yesus. Di dalam kondisi seperti ini apa yang dilakukan para murid merupakan reaksi yang wajar, seperti manusia biasa pada umumnya yang takut akan kematian.

Namun hal yang menarik terjadi. Setelah melihat para murid-Nya yang panik dan putus asa, Yesus bangun dan menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu agar tenang. Sehingga angin ribut itu reda dan danau tersebut menjadi teduh sekali. Setelah itu Yesus menegur murid-murid-Nya ”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Pertanyaan-pertanyaan Yesus ini rasanya sulit untuk dimengerti. Karena memang pada waktu itu para murid sudah takut mati, sehingga rasanya pertanyaan ini kurang tepat. Tapi mengapa Yesus tetap mengatakan hal ini? – yang rasanya lebih tepat dipahami bukan sebagai pertanyaan yang memerlukan jawaban, melainkan merupakan sebuah teguran yang keras kepada para murid. Apa maksudnya?

Entah karena keheranan terhadap peristiwa yang baru saja mereka alami, para murid tidak memberikan respon secara langsung terhadap pertanyaan Yesus. Mereka malah takut kepada Yesus (pertama takut pada angin ribut, namun setelah itu takut pada Yesus) dan untuk pertama kalinya di dalam Alkitab dicatat para murid bertanya seorang pada yang lain ”Siapa gerangan orang ini, …” atau dengan kata lain ”Siapa Dia?.

Sikap para murid yang pertama kali mendiskusikan tentang siapa Yesus ini menunjukkan bahwa mereka belum mengenal Yesus dengan baik, padahal mereka sudah sekian lama bersama-sama dengan Yesus. Jika mereka mau mendiskusikan tentang siapa Yesus ini, seharusnya  di awal mereka mengikut Yesus. Tapi mengapa baru sekarang? Sehingga dari sini dapat diketahui bahwa selama ini para murid belum mengenal Yesus dengan baik. Apalagi mereka mengatakan ”Apakah Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Apakah memang Yesus benar-benar tidak perduli? Apakah para murid tidak tahu bahwa guru mereka, Yesus Kristus, adalah Pribadi yang sangat berkuasa? Bukankah para murid telah bersama-sama dengan Yesus pada saat Yesus mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mengajar orang banyak. Ternyata pengetahuan akan seseorang tidak menjamin bahwa kita mengenal orang tersebut dengan baik, begitu pula hubungan kita dengan Allah. Pengetahuan akan Allah tidak menjamin bahwa kita mengenal Allah dengan baik.

Kita lihat murid-murid Yesus. Mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Yesus dalam pelayananNya. Mereka tahu Firman. Mereka sudah pelayanan. Mereka juga taat. Saya yakin mereka pada saat itu dalam keadaan letih setelah melayani terus menerus. Tapi ketika Yesus mengajak mereka menyeberang, mereka patuh dan ikut tanpa membantah. Artinya, mereka adalah orang-orang taat. Tapi lihatlah bahwa badai tetap bisa menghantam pengikut Yesus yang taat. Dan lihatlah, orang-orang taat yang sudah melayani sekalipun ternyata masih bisa memiliki iman yang kurang teguh sebagai rasa takut yang dialaminya. Padahal mereka sedang bersama Yesus pada saat itu. Apa yang mampu dilakukan Yesus? Dia sanggup meredakan badai yang membuat danau bergejolak dalam waktu yang singkat.

Menjadi pengikut Yesus tidak berarti kita akan 100% hidup tanpa masalah. Sekalipun kita sudah melayani, selalu taat, dan mengerti Firman, namun hal itu  tidak menjamin hidup kita akan benar-benar tanpa badai persoalan. Ada kalanya kita akan berhadapan dengan “angin ribut” dalam kehidupan kita. Ada kalanya “air” mulai memasuki “kapal” kehidupan kita dan siap menenggelamkannya. Tapi ingatlah bahwa kita tidak perlu khawatir apabila kita tetap berjalan bersama Yesus. Jangan sampai kita yang mengaku percaya pada Yesus ternyata tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita sehari-hari, sampai-sampai Tuhan hanya ditempatkan “di buritan” hingga tertidur sendirian. Tidak akan ada badai yang mampu menjungkirbalikkan apabila kita selalu melibatkan Yesus dalam hidup kita. Itu kunci utama agar kita bisa terus berjalan dengan jiwa penuh damai meskipun sedang berada ditengah-tengah amukan badai kehidupan. Dengan berjalan bersama Yesus dalam hidup baik dalam keadaan tenang maupun dalam angin ribut, kita  tidak perlu takut karena kita bisa menyerahkan kekhawatiran kita kepadaNya seperti yang dikatakan Petrus. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Jangan jadikan Tuhan sebatas lampu emergency, yang hanya menyala ketika dibutuhkan, namun jadikanlah Tuhan sebagai partner dalam menempuh perjalanan hidup. Libatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita.

Pada ayat 35 kita tahu bahwa pada awalnya Yesus yang mengajak mereka ke seberang. Tetapi mengapa tetap ada badai ? Jawabnya terletak pada ayat 36. Di ayat 36 , mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

Tadinya Yesus yang mengajak dan membawa mereka. Tetapi, tiba-tiba ada pergantian, merekalah kini yang membawa Yesus. Mereka tidak membiarkan lagi Yesus memimpin. Mereka berpikir, bahwa merekalah yang pantas memimpin. Yesus adalah anak tukang kayu, para murid adalah nelayan-nelayan yang lebih berpengalaman dan tahu suasana danau, para murid juga lebih mengerti tentang arah angin. Jadi, para murid yang harus memimpin, dan para murid menempatkan  Yesus di buritan (bagian belakang perahu). Karena kuasa kegelapan melihat tidak perlunya Yesus menjadi pemimpin, maka kuasa kegelapan datang untuk mencobai dengan memberi badai yang sangat dashyat. Dan terbukti, mereka tidak mampu mengatasi pencobaan dengan kepemimpinan mereka sendiri.

Jika Yesus yang memimpin, jika Yesus yang memegang kemudi dan mengendalikan perahu ini, saya percaya bahwa badai tidak akan turun dan menghantam perahu, dan saya percaya danau itu akan tenang. Saudara boleh saja seorang dokter, seorang professor, seorang pengacara, atau boleh saja saudara seorang businessman yang ditempatkan Tuhan. Saudara boleh saja seorang yang kaya raya, atau seorang Insinyur yang terkenal. Tetapi, sebagai hamba Allah saya kembali mau mengingatkan, tetap jadikan Yesus yang memimpin hidup saudara.

Sebelum memulai melakukan apapun, mulailah bersama Yesus. Sebelum mengambil keputusan, mintalah Yesus terlibat dan jadikan pemimpin dalam hidup kita. Bertanyalah kepada Tuhan, ” Tuhan, apa yang harus saya perbuat ? ” Tuhan, tuntun saya, Tuhan saya mengambil keputusan ini, tolong kalaulah ini dari Tuhan, Tuhan materaikan, tetapi kalau bukan dari Tuhan, biarlah Engkau singkirkan. Jadi, kalau kita mempersilahkan Yesus yang memimpin, maka Yesuslah yang mengatur segala sesuatunya.

Disisi lain, mengapa Yesus tertidur di perahu ?. Yesus tidur bisa disebabkan karena lelah setelah melayani orang banyak. Namun dibalik itu, sebenarnya Tuhan Yesus menyerahkan tanggung jawab kepada para murid untuk mengemudikan perahu. Namun ternyata tanggung jawab itu tidak dilaksanakan dengan baik. Menghadapi badai seperti itu, mereka sudah takut dan menyerah. Seharusnya para murid memperlihatkan perilaku yang benar dalam menyelamatkan perahu dengan segenap daya upaya. Namun rasa takut dan kurang percaya membuat para murid kehilangan akal sehat. Bisanya hanya menggerutu, mengeluh, dan menyalahkan Tuhan Yesus yang sedang tidur. Dengan sikap yang bijak, Yesus menghentikan badai. Tetapi yang penting bukan berhentinya badai, tetapi supaya para murid tidak memiliki iman yang lemah, melainkan memiliki iman yang mampu mengatasi rasa takut. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ketika kita menghadapi masalah, kita tidak boleh takut dan kurang percaya. Semua orang mempunyai rasa takut, namun rasa takut itu harus kita kalahkan melalui iman kita.

Seandainya kita ada dalam perahu seperti yang terjadi di perikop ini, bersama-sama dengan Yesus dan murid-murid. Sewaktu badai mulai datang dan perahu sudah mulai  penuh air. Saya rasa apa yang dirasakan oleh murid-murid waktu itu: kepanikan mereka, ketakutan mereka, kekuatiran mereka sekaligus juga sebel-sebelnya mereka kepada Yesus yang mereka anggap diam saja, gak peduli kalau perahu sebentar lagi bisa jadi ancur … mungkin 99,99% akan menjadi perasaan kita juga!

Badai kehidupan selalu ada dihadapan kita. Pada saat tertentu badai itu tidak menerpa kita, tetapi terkadang hanya satu badai yang menerpa kita, namun ada kalanya kita diterpa bermacam-macam badai. Orang yang kita kasihi tiba-tiba mengalami kecelakaan atau meninggal dunia, tiba-tiba terjadi konstleting listrik hingga rumah kita terbakar, enak-enak nonton televisi dirumah tiba-tiba pesawat menjatuhi rumah kita (ingat jatuhnya pesawat Fokker 27), perusahaan tempat kita bekerja bangkrut sehingga kita di PHK, penghasilan yang tidak mampu untuk membiayai sekolah anak-anak, diputus pacar, anak-anak kita yang sangat nakal/malas dan sebagainya. Badai itu membuat kita gelisah, cemas, dan takut untuk menjalani kehidupan. Badai itu, seringkali membuat kita patah semangat untuk menghadapi masa depan. Rasanya badai kehidupan kita ini lebih menakutkan dari apa yang dialami para murid waktu itu.

Jadi kalau mau berbicara tentang  “ Iman yang berani menghadapi rasa takut “ rasanya lebih mudah mengucapkannya daripada melakukannya. Namun demikian, marilah kita melihat beberapa hal yang mungkin bisa menjadi renungan supaya kita memiliki ketenangan, tetap damai meskipun ada di tengah badai yang menakutkan dalam kehidupan kita sekarang ini.

Tenang di tengah badai yang menakutkan bukan berarti melarikan diri dari kenyataan, melainkan berani menghadapi kenyataan bahwa betul ada kesulitan-kesulitan di sana-sini. Kita harus berjuang sekuat tenaga supaya kesulitan hidup terselesaikan. Salah satu yang bisa membuat kita tenang adalah saat kita ini tahu bahwa kita sudah melakukan yang sebaik mungkin dalam menghadapi amukan badai itu.

Kita akan tenang dalam menghadapi badai yang menakutkan kalau kita tahu bahwa meskipun kita melewati badai, Tuhan selalu ada dan menyertai kita dan memberikan kepada kita kekuatan yang cukup untuk melewati dan mengalahkan setiap badai. Badai itu  Tuhan yang izinkan terjadi dalam kehidupan kita untuk kebaikan kita.

Kita belajar dari burung Rajawali. Ketika badai datang, Rajawali akan mengembangkan sayapnya sehingga angin badai yang datang menyerbu dirinya itu justru akan mengangkat dia melayang tinggi sehingga dia terbang jauh di atas dan melampaui badai dan melewati badai yang sedang terjadi. Waktu badai mengamuk, Rajawali justru memanfaatkan badai dahsyat itu untuk mengangkat dia ke tempat yang lebih tinggi yang membuat dia bisa melewati badai sedahsyat apapun. Bila berada di tengah badai yang menakutkan hidup, andalkanlah Tuhan supaya kita bisa melewati badai itu dan menapaki tingkat kehidupan yang baru, yang lebih tinggi lagi, lebih dekat lagi dan jauh lebih kenal lagi tentang karya, kuasa penyertaan Tuhan.

Dari bacaan pertama (Ayub 38 : 1, 8-11), Ayub menjadi contoh yang baik. Kita tahu bahwa Ayub adalah salah satu orang percaya yang berani menghadapi berbagai kesusahan dan godaan. Anak-anak Ayub meninggal, harta benda Ayub habis, Ayub ditinggal istrinya, dan Ayub di cemooh orang-orang disekitarnya. Namun demikian Ayub tidak patah semangat. Meskipun pernah protes kepada Tuhan atas segala kesusahan dan godaan yang dialami, namun Tuhan tetap menghormati segala usaha yang dilakukan Ayub. Ayub tetap diingatkan Tuhan bahwa semua peristiwa dalam kehidupan tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan. Badai kehidupan diijinkan Tuhan untuk kebaikan umat manusia, meskipun terkadang harus dilalui dengan kesedihan, kecemasan dan rasa sakit. Ayub  diuji dengan berbagai persoalan yang berat, namun semua itu dihadapi Ayub dengan iman yang teguh. Dan ternyata Ayub menjadi pemenang.

Bacaan kedua (2 Korintus 5 : 14-17) mengingatkan kita tentang berbagai godaan, tantangan dan hambatan yang dialami rasul Paulus dalam pelayanannya di tengah jemaat. Paulus dimampukan menghadapi berbagai masalah bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena kasih karunia Tuhan. Oleh karena kasih karunia Tuhan, Paulus mendapat kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan tugas pelayanannya. Kekuatan Paulus dalam menghadapi berbagai masalah bukan didasarkan pada kemampuan diri sendiri, namun kekuatan itu karena Tuhan yang memberi. Itulah yang disebut menjadi ciptaan baru didalam Tuhan. Ciptaan lama mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi ciptaan baru mengandalkan penyertaan dan kuasa Tuhan.

Iman yang berani menghadapi rasa takut, tampil tenang ditengah badai kehidupan. Iman yang berani menghadapi rasa takut mengetahui dan mengenal Tuhan sebagai sumber segala penyelesaian hidup kita. Iman yang berani mengalahkan rasa takut menerima  tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan dan menjalankannya dengan baik. Iman yang berani menghadapi rasa takut menjadikan Tuhan Yesus sebagai pemimpin, dan mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaTuhan. Kita panggil Yesus, karena Yesus tidak pernah terlalu sibuk, sampai IA tidak bisa mengulurkan tanganNYA dan membantu kita. Yesus kelihatanNYA tertidur, tetapi ketika murid-muridNYA memanggil Yesus dengan suara hati yang terdalam, Yesus pasti meneduhkanNYA. Ketika ada badai, jangan lari, jangan kalah sebelum melawan. Hadapilah badai yang menakutkan itu, dan percayalah bahwa Yesus dapat meneduhkannya. Imani dan percayalah, karena bagi Yesus tidak ada perkara yang mustahil. Amin.

Drs. Kristyan Dwijosusilo, M.Kp – 23062912

Kotbah Ibadah Minggu, 22 Januari 2012, pukul 18.30

Di GKJW NGAGEL

Pnt. Drs. Kristyan Dwijosusilo, M.Kp

 

IMAN YANG BERTANGGUNG JAWAB

TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN ALAM

 

Introitus Mazmur 8 : 4 – 6

 

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan ; apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya ?. Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya ?. Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

 

Bacaan utama : Pengkotbah 3 : 16 – 22

Nats : Pengkotbah 3 : 19

 

Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka : sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tidak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.

 

 

  1. Kita bisa memutar jam lebih cepat atau sebaliknya lebih lambat sesuai dengan kepentingan kita, namun hari-hari tidak pernah berhenti. Misalnya, jam dirumah saya saya percepat 15 menit supaya tidak terlambat kerja dan tidak tergesa-gesa dalam menyiapkan anak-anak ke sekolah. Ketika memimpin PA dengan di kelompok dengan materi dari MA GKJW, bila pertanyaan sedikit seringkali anggota kelompok menyatakan bahwa waktu belum jam 9 malam, belum berakhir sehingga kami harus memperlambat waktu dengan mengembangkan materi. Hari-hari terus berjalan, kita tidak bisa memutar kembali bila sudah berlalu. Pertanyaanya : mungkinkah diantara kita ada yang ingin memutar kembali waktu kehidupan ?. Apakah kita yang sudah dewasa inginkembali menjadi seperti remaja ?, atau kita yang telah tua ingin menjalani kehidupan seperti saat muda dahulu. Sama seperti, jam yang dapat kita perlambat atau percepat, kita seringkali juga ingin tetap muda meskipun usia telah lanjut. Rambut kepala yang sudah beruban disemir hitam, bagian tubuh yang terlalu gemuk di sedot lemak, bagian tubuh yang keriput dilakukan operasi plastik atau ditutup make-up tebal, supaya tetap perkasa minum obat kuat agar tetap “greng” dan sebagainya. Namun semua itu tidak akan dapat menghentikan laju usia kita yang terus bertambah.

  2. Setiap detik kehidupan memiliki masa-masa tersendiri. Ada masa anak-anak, masa remaja, pemuda, dewasa, dan masa orang tua. Ada kalanya masa hari ini penuh kebahagiaan, tetapi tidak jarang dimasa tertentu kita merasakah kesedihan. Pada umumnya orang tidak mau kehilangan masa-masa terindah dalam hidupnya, sebaliknya berusaha untuk melupakan masa-masa yang buruk dari hidupnya. Pada umumnya, manusia ingin mencapai dan menikmati masa-masa hidupnya dengan penuh kebahagiaan. Untuk itu manusia mengisi masa-masa hidupnya dengan melakukan aktivitas dan kerja. Tuhan telah memperlengkapi tubuh manusia supaya dapat melakukan aktivitas. Dengan perlengkapan hidup yang diberikan Tuhan maka manusia menjadi mahluk yang paling tinggi kedudukan diantara mahluk ciptaan Tuhan yang lain.

  3. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia diberi Tuhan roh/nyawa, pikiran, akal budi, perasaan, dan kehendak/keinginan. Dengan roh, pikiran, akal budi, dan kehendak maka manusia menjadi mahluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Kelebihan itu tampak dalam beberapa hal, yakni

  1. Roh manusia adalah roh yang kelak akan kembali kepada Allah. Roh manusia adalah roh yang akan mengalami pengadilan Allah setelah kematian. Hal ini tidak dialami oleh hewan atau tumbuhan.

  2. Dengan akal budinya, manusia bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Manusia bisa mengetahui tindakan apa yang baik dan bermanfaat dengan tindakan yang buruk dan merugikan. Dengan akal budi pula, manusia bisa menata kehidupan menjadi masyarakat yang tertib dan berbudaya. Dengan demikian, sejak kecil hingga tua hidup manusia selalu berada dalam norma, aturan, dan hukum yang harus ditaati. Ada aturan dan norma di rumah/keluarga, ada aturan/norma/hukum ketika berada di sekolah, ditempat kerja, di fasilitas umum, dan di semua tempat dimana ada komunitas manusia disitu selalu ada aturan/norma/hukum agar kehidupan menjadi tertib, aman, dan nyaman.

  3. Dengan perasaannya manusia bisa merasakan kesedihan dan kebahagiaan. Dengan perasaan manusia bertindak hati-hati. Dengan perasaan, manusia bisa peka terhadap sesamanya dan lingkungannya. Manusia juga bisa merasakan apa yang sedang dialami sesamanya sehingga muncul sikap peduli dalam bentuk mengasihi dan memberi.

  4. Dengan akal pikiran dan kepandaiannya, manusia bisa mengusahakan hal-hal yang sulit dilakukan. Manusia tidak bisa terbang, tetapi dengan kepandaiannya, manusia bisa membuat pesawat terbang yang memungkinkan dia melintasi udara. Manusia tidak bisa berjalan dan menyelam di air seperti hewan. Tetapi dengan kepandaiannya manusia bisa membuat kapal dan peralatan selam yang memungkinkan dirinya untuk melakukan aktivitas di dipermukaan dan di dalam air. Pikiran dan kepandaian manusia terus berkembang sehingga melahirkan berbagai penemuan tehnologi yang semakin mempermudah dirinya untuk menjalani hidup. Komputer, Handphone, Internet, dan sebagainya adalah beberapa bukti yang memperlihatkan bahwa pikiran manusia semakin bertambah pandai.

  1. Dengan segala kelebihan yang ada dalam dirinya, Tuhan menghendaki agar manusia tidak sekedar hidup, akan tetapi Tuhan menghendaki agar hidup manusia adalah hidup yang memiliki pengharapan dan tujuan yang bermanfaat bagi sesamanya. Manusia sebagai mahluk yang diciptakan segambar dengan Allah mendapat tugas untuk memelihara, memanfaatkan, dan melestarikan lingkungan alam. Kelebihan manusia membuat dirinya memiliki kekuasaan terhadap alam semesta, namun demikian kekuasaan yang diberikan Tuhan bukan kekuasaan tanpa batas, melainkan kekuasaan yang terbatas dan penuh tanggungjawab. Kekuasaan diberikan kepada manusia dimaksudkan agar manusia dapat menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama dan lingkungan alam.

  2. Namun demikian, dalam perikop ini Pengkotbah mengemukakan kenyataan sebenarnya , yang ternyata tidak seperti yang diharapkan.

  1. Di ayat 16, Pengkotbah menyatakan bahwa ditempat pengadilan ternyata terdapat ketidak-adilan. Ditempat dimana dilakukan peradilan ternyata terjadi penyimpangan dari hukum. Di tempat di mana patut dijalankan keadilan, tapi yang terjadi adalah ketidakadilan, penyelewengan, dan tindakan sewenang-wenang. Pengadilan yang dibuat untuk menegakkan keadilan, kadangkala suap dan korupsi yang menang. Kenyataan dunia peradilan membuat kita cenderung menyimpulkan bahwa keadilan adalah sesuatu yang sangat relatif. Memang ada ukuran dalam bentuk hukum atau undang-undang. Tetapi dalam prakteknya seringkali keadilan dan ketidakadilan menjadi rancu. Mengapa ? Karena justru di pengadilan keadilan bisa diputuskan tidak adil dan ketidakadilan bisa diputuskan adil. Ini bukan perkataan Pengkotbah sendiri, tetapi pendapat umum yang diangkat oleh Pengkhotbah. Kalimat-kalimat dalam perkataan ini seringkali dimunculkan pada waktu ada seorang sedang menghibur orang lain ketika mengalami perlakuan yang sangat tidak adil ataupun sedang dirundung kesusahan. Karena di tempat keadilan tidak ada keadilan dan sulit sekali mencari keadilan, maka korban-korban ketidakadilan hanya bisa berpikir bahwa Allah yang akan membalasnya, namun demikian hati mereka masih marah, benci dan dendam.

Sebenarnya masalah bukan terletak pada Allah tetapi pada hati seseorang yang mengalami ketidakadilan yakni adanya rasa geram, benci, maupun dendam. Dalam menghadapi ketidakadilan, permasalahan utamanya bukan pada tempat pengadilan atau bahkan ketidakadilan itu sendiri tetapi masalah utamanya itu adalah bagaimana diri seseorang yang dipengaruhi oleh ketidakadilan, kemudian bagaimana menanggapi ketidakadilan itu. Jikalau tanggapan kita berupa dendam, kebencian, maupun kemarahan yang harus dibalaskan maka kalimat Pengkotbah sangat mengena kepada kita.

Meskipun demikian, pengkotbah tidak tawar hati. Perbuatan yang tidak adil tidak akan berjalan selama-lamanya, karena Tuhan telah memberi batas waktu dalam penghakiman. Akan ada pengadilan Allah yang diperuntukkan bagi orang yang benar maupun orang yang tidak adil. Pengadilan Allah adalah pengadilan yang dijamin adil, sebab Allah sendiri yang menjadi hakim. Keadilan itu bukan saja kelak akan diberlakukannya, bahkan sekarang pun Tuhan menjalankannya. Sekalipun peradilan Allah tidak segera tampak bagi kita, akan tetapi tiap perbuatan manusia pasti mengalami penilaian Allah.

  1. Pada ayat 17 juga dinyatakan bahwa untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya. Waktu disini berarti masa. Masa adalah suatu kurun waktu tertentu yang ada awalnya dan ada akhirnya. Yang dimaksud “segala sesuatu” dalam nas ini meliputi tiga hal (ayat 1-8) yaitu: 1). Kegiatan sehari-hari seperti menanam-mencabut; merombak-membangun; merobek-menjahit; mencari untung-merugi. 2). Kejadian yang melibatkan perasaan seperti menangis-memeluk; tertawa-meratap; mengasihi-membenci; berbicara-berdiam diri. 3). Peristiwa kehidupan seperti lahir-meninggal; perang-damai. Demikian juga Allah, pada waktunya akan mengadili tiap perbuatan manusia. Pengadilan Allah atas manusia akan terjadi setelah kematian. Untuk itu, sebelum kematian menjemput maka kita harus mengisi hidup dengan ketaatan pada kehendak Allah. Ini dimaksudkan agar pengadilan Allah memberikan vonis kepada kita untuk masuk kedalam kerajaan sorga. Yang penting untuk diingat adalah Tuhan meminta kita untuk dapat menggunakan masa hidup ini dengan sebaik-baiknya karena sekali masa hidup kita itu lewat maka “ia tidak akan kembali” lagi. Masa hidup kita ada dalam perhitungan-Nya karena Dialah Tuhan yang mengatur “segala sesuatu” menjadi indah bagi kita. Masa hidup kita masing-masing berisikan kehendak dan pemeliharaan Tuhan, oleh karena itu, percayakan kepada-Nya. Hidup kita adalah pemberian Allah, oleh karena itu kita harus menggunakan dengan penuh tanggung jawab.

  1. Meskipun secara rasional manusia memiliki kelebihan dari mahluk ciptaan Tuhan lain, namun pada ayat 18 dan 19 Pengkotbah justru menyatakan bahwa manusia sama dengan binatang. Kesamaan itu tidak secara fisik atau phsikis, tetapi kesamaan itu tampak dalam hal yang paling mendasar, yakni kesamaan secara teologis. Secara teologis, manusia dan binatang memiliki kesamaan yaitu pertama sama-sama mengalami masa kelahiran, hidup, membutuhkan makanan, dan bertumbuh/berkembang ( ayat 18).Keduamanusia dengan hewan adalah sama-sama mengalami kematian. Ketiga, manusia dan hewan memiliki nafas yang sama, mereka sama-sama membutuhkan udara untuk bernafas dan hidup. Keempat, manusia dan hewan menuju satu tempat yang sama yaitu pemakaman dimana manusia dan hewan yang mati akan dikubur. Kelima, manusia dan hewan memiliki kondisi yang sama yakni sama-sama diciptakan dari debu dan kembali menjadi debu. Dari persamaan antara manusia dan binatang ini maka dapat disimpulkan bahwa semua mahluk ciptaan Tuhan memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan.

C1. Dari pemahaman bahwa manusia dan binatang memiliki nasib yang sama dan dari pemahaman bahwa semua ciptaan memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan, maka sebagai manusia kita tidak boleh sombong, tidak boleh meremehkan orang lain ciptaan Tuhan yang lain. Manusia tidak hanya sebagai mahluk sosial, tetapi juga mahluk yang selalu membutuhkan alam sekitarnya. Kita harus menyadari bahwa kehidupan kita sangat tergantung dengan alam semesta. Kita menghirup oksigen yang merupakan sisa fotosintesis, kita menggunakan kotoran hewan/sampah untuk menyuburkan tanaman di kebun kita, kita membutuhkan sayur dan daging untuk mencukupi kebutuhan gizi bagi perkembangan tubuh kita, dan sebagainya. Apabila alam kita ekploitasi habis-habisan dan kita rusak maka generasi selanjutnya akan menikmati kesengsaraan dan kemiskinan. Manusia yang memiliki kelebihan dibandingkan hewan dan tumbuhan seharusnya mempergunakan kelebihan itu untuk kelestarian lingkungan alam.

C2. Dari pemahaman bahwa manusia dan binatang memiliki nasib yang sama, maka sebagai manusia kita harus mengucap syukur. Kita mengucap syukur karena Tuhan menempatkan kita di dunia ini bersama-sama dengan ciptaan Tuhan yang lain. Kita mengucap syukur karena kita dekat dengan hewan, tumbuhan dan mahluk hidup yang lain. Dengan dekat dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lain, kita memperoleh kemudahan dalam mengelola dan memanfaatkan alam untuk kebutuhan saat ini maupun kelangsungan masa depan. Ini berarti Tuhan telah menyiapkan segala kebutuhan kita dalam bentuk tanaman (sayur mayur), hewan (daging), dan kebutuhan lain yang berasal dari lingkungan alam (misalnya Bahan bakar, Listrik, udara, sinar matahari, air, dan sebagainya). Tuhan juga telah menata segala kebutuhan itu dengan baik sehingga manusia bisa tercukupi kebutuhannya dan memiliki hidup yang dipelihara oleh Tuhan. Tuhan telah menghadirkan kita di dunia ini dalam sebuah persekutuan yang aman, tenteram, dan penuh kedamaian, dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Tuhan ada di dalam persekutuan. Persekutuan tersebut dinamis, senantiasa bergerak kearah kebaikan bersama. Tuhan melihat semuanya ciptaan-Nya berkembang dan bertumbuh. Oleh karena itu, sebagai wujud ucap syukur maka kita harus memujudkan tanggung jawab untuk memelihara dan melestarikan semua ciptaan Tuhan.

C3. Dari pemahaman bahwa manusia dan binatang memiliki nasib yang sama, maka sebagai manusia kita harus menyadari bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kehidupan di dunia ini ada batasnya, dan batas kehidupan dunia adalah kematian. Oleh karena itu, ketika kita masih diberi hidup dan umur panjang, kita harus membangun hidup untuk menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama manusia dan lingkungan alam. Dengan kata lain, kita tidak boleh menyia-nyiakan hidup pemberian Tuhan. Kita harus mempergunakan hidup dengan tindakan yang baik dan bermanfaat bagi ciptaan Tuhan yang lain.

C4. Dari pemahaman bahwa manusia dan binatang memiliki nasib yang sama, maka tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada bergembira dalam bekerja. Dunia ini tidak mungkin maju bila orang-orangnya tidak bekerja. Sayangnya kerja yang merupakan panggilan terhormat dari Allah dinodai oleh berbagai hal. Kerja dilandasi iri hati dan penindasan. Kerja baru berarti bila mampu memberikan kebahagiaan bagi hidup. Kerja baru berarti bila telah menghasilkan harta benda yang melimpah atau kedudukan yang terhormat di mata manusia. Ukuran keberhasilan kerja yang demikian, oleh Pengkotbah dipandang sebagai sebuah kesia-siaan belaka. Kerja telah menghasilkan kehampaan hidup karena kerja dipandang sebagai sumber kebahagiaan, bahkan lebih dari itu, segala sesuatu adalah sia-sia. Mengapa pengkotbah menyatakan hal itu ?

Salomo menulis Kidung Agung ketika masih berusia muda, menulis Amsal pada usia setengah tua dan menulis kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya. Pengaruh kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dan hidup memuaskan-diri sendiri pada akhirnya membuat Salomo kecewa dengan kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Salomo telah mengalami kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan sensual — semua secara melimpah — namun semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaannya saja, “Kesia-siaan belaka! Kesia-siaan belaka! … segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkh 1:2). Salomo melukiskan berbagai segi hidupnya yang sangat mementingkan diri dalam segenap kemakmuran, kesenangan, dan keberhasilan duniawi (Pengkh 1:12–2:23). Usaha memperoleh kebahagiaan melalui cara-cara ini baginya telah berakhir dengan ketidakpuasan dan kehampaan.

Tujuan Pengkotbah menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia adalah upaya untuk menyampaikan semua penyesalan dan kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat, khususnya kepada kaum muda, supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya. Pengkotbah membuktikan untuk selama-lamanya kesia-siaan terjadi apabila melandaskan nilai-nilai kehidupan pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi. Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pengkh 11:9-10), adalah lebih penting untuk mengabdikan diri kepada Sang Pencipta (Pengkh 12:1) dan membulatkan tekad untuk takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya (Pengkh 12:13-14).

Oleh karena itu, menurut Raja Salomo tindakan yang terbaik menyikapi masa hidup ini ialah dengan berlaku bijak. Orang bijak menurut nas ini adalah orang yang memercayai bahwa rancangan Tuhan adalah kehendak-Nya yang terbaik meski terkadang “sakit” (ayat 11); Orang bijak adalah orang yang dapat mensyukuri masa hidup yang Tuhan sediakan baginya (ayat 13); Orang bijak juga tidak mudah mengeluh karena ia tahu bahwa Tuhanlah yang merencanakan masa hidupnya yaitu hidup untuk kemuliaan-Nya (ayat 14). Orang bijak menyadari bahwa Tuhan memintanya untuk dapat menggunakan masa hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Menggunakan masa hidup sebaik-baiknya adalah hidup yang semata-mata tidak berfokus pada hal-hal dibawah matahari atau mengejar hal-hal duniawi. Jika kita memfokuskan masa hidup dengan perkara-perkara dibawah matahari maka hidup ini akan sia-sia.

Dengan kata lain, Pengkotbah sebenarnya ingin mengajak kita supaya ketika kita hidup dan bekerja maka kita harus memfokuskan pada kehidupan diatas matahari yaitu kehidupan rohani untuk mengenal lebih dekat kepada Tuhan yang empunya kehidupan. Segala usaha manusia berdasarkan kekuatan sendiri adalah sia-sia dan segala kekayaan tidak berguna, kalau Tuhan tidak memberikan kuasa untuk menikmatinya. Kita harus belajar untuk menerima dan menikmati anugerah Allah dan terus menjalani hidup bersama Tuhan, walaupun kita kita tidak dapat mengerti maksud-maksud Allah. Ini berarti kita boleh puas dengan keberadaan kita dan berbahagia dengan cara hidup yang sederhana. Apakah kita kaya atau miskin tidaklah menjadi masalah. Walaupun kita tidak dapat mengerti keseluruhan arti kehidupan, cara hidup dengan menggantungkan diri kepada Allah merupakan suatu hikmat yang benar.

 

  1. Ayat 21-22 menjadi firman yang mengarahkan kita supaya kita tidak memiliki pengertian bahwa setelah manusia mati, dikuburkan atau dikremasi maka sudah selesai masanya. ‘Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?’ (Pkh 3:22). Pada kalimat ‘sesudah dia’ adalah sesudah kematian atau apakah yang akan terjadi pada kehidupan selanjutnya sesudah mati. Hal ini berkaitan dengan ‘individual eschatologyi” (kedatangan Tuhan Yesus secara pribadi), maka kita perlu berpikir/merencakan untuk kehidupan mendatang dan berpikir/merencakan tentang kelangsungan generasi sesudah kita. Pengkhotbah mengajak kita untuk melihat bahwa hidup ini tidak hanya di titik diadili dan diperlakukan adil atau tidak adil tetapi bagaimana dengan hidup ini sesudah kita tidak ada di dunia? Apa yang kita bisa berikan dan tinggalkan bagi generasi selanjutnya sesudah kita mati ? Kita diajak untuk berencana dan memikirkan yang lebih baik tentang arah hidup dan pekerjaan kita. Kebahagiaan dalam bekerja meracuni semua bangsa-bangsa dan menjadi suatu kekuatan untuk merusak apa saja termasuk diri mereka, ketika mereka melakukan semua itu dengan argumentasi ‘ini pekerjaanku’, ‘ini usahaku’, atau ‘aku bekerja untuk memberi makan banyak orang’. Tetapi pekerjaan yang mereka lakukan itu merusak bumi, merusak kehidupan yang normal, bahkan merusak tatanan kesehatan dunia ini. Sebagai contoh adalah kerusakan alam di Papu (Irian Jaya) yang disebabkan penambangan Freeport maupun rusaknya kehidupan laut yang disebabkan penambangan timah di Pulau Bangka. Dunia mempunyai teori sendiri yaitu teori binatang sehingga segala sesuatunya itu dipakai, dinikmati dan dihabiskan bersama-sama. Kita melihat banjir di kota ini, salah satunya karena banyak warga yang membuang sampah di saluran air atau sungai. Untuk itu, sebagai orang beriman kita diharuskan mampu memberikan dan mewariskan segala hasil pekerjaan kita yang terbaik kepada generasi selanjutnya. Kita harus menyiapkan generasi mendatang menjadi generasi yang mampu memberi jaminan kelestarian ciptaan Tuhan.

  2. Sungguh menakjubkan bahwa Kitab Pengkhotbah berisi hal-hal yang dapat diterapkan dalam zaman modern ini. Dewasa ini banyak orang mencoba untuk hidup tanpa Allah, dan merasa bahwa seluruh keberadaan mereka tidak mempunya tujuan. Seperti pada masa Pengkhotbah, sekarang ini banyak orang mencoba segala macam cara untuk memberi arti kepada kehidupan, tetapi seringkali usaha pencarian mereka berakhir dengan pertanyaan, “Siapakah diriku ini?” “Apa yang saya kerjakan di dunia ini?” “Setelah ini ke mana saya akan pergi?”. Oleh karena itu, kita harus datang kepada Allah karena hanya Allahlah yang dapat memuaskan rasa lapar rohani yang telah ditaruh-Nya di dalam hati kita.

  3. Kitab Pengkotbah ini mempersiapkan jalan untuk pernyataan PB dengan cara terbalik. Acuan kepada kesia-siaan hidup dan kematian mempersiapkan kita untuk memahami jawaban Allah terhadap kematian dan penghukuman yaitu, hidup kekal melalui Yesus Kristus. Karena orang-orang PL tidak sanggup menemukan jawaban yang memuaskan bagi aneka persoalan hidup melalui pencarian kesenangan yang mementingkan diri, kekayaan, dan pengumpulan pengetahuan, maka kita harus mencari jawaban tersebut di dalam Dia yang oleh PB disebut “lebih daripada Salomo” (Mat 12:42), yaitu Yesus Kristus.

Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama dengan angkatan ini dan akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada disini lebih dari pada Salomo ( Matius 12 : 42 )

Dalam Yesus Kristus “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3). Kehidupan kita sepatutnya memantulkan karakter Tuhan Yesus karena setelah kematian, akan datang penghakiman; dan Tuhan akan mengadili orang yang jahat dan baik.

  1. Di dalam Matius 28:18-20, Yesus mengajarkan semua orang percaya supaya bekerja keras untukNya. Oleh karena itu kita harus memberikan diri kita di dalam pimpinan Tuhan. Salah satu dasar di belakang konsep berdirinya Negara Indonesia di awal tahun 1945 adalah bangsa yang miskin, lemah, dan dikuasai penjajah ; bergerak maju merebut kemerdekaan, dan menjadi bangsa yang terus berupaya menjadi lebih kuat dan besar. Dihubungkan dengan kehidupan kekristenan, kita dapat mengatakan bahwa ketika kita lemah, kita harus maju menghadap Tuhan, sebab Dialah yang Maha Kuat dan Maha Kuasa. Kita tidak boleh patah semangat ketika masa hidup ini berisi hal-hal yang menyedihkan. Apapun yang kita rasakan, yang terpenting kita tidak kehilangan jiwa dan iman kita. Untuk itu dalam menunggu kedatangan Kristus yang kedua dan menunggu individual eschatologyi maka orang lain patut mengetahui bahwa Kristus ada dalam diri kita dan kita ada dalam diri Yesus. Ikut sertakan Tuhan agar pekerjaan kita tidak sia-sia dimata Tuhan dan manusia. Ikut sertakan Tuhan agar masa-masa yang telah berlalu, yang sedang kita jalani, dan masa yang akan datang adalah masa-masa hidup yang peduli kepada kelestarian alam dan kelangsungan generasi selanjutnya. Amin.


 

 

 

 


RENDAH HATI

Thema : RENDAH HATI

Oleh : Drs. Kristyan Dwijosusilo, M.KP

Bacaan pertama Zefanya 2 : 3 ; 12 – 13. Bacaan kedua I Korintus 1 : 26 – 31. Bacaan ketiga Matius 5 : 1 – 12.

Introitus Yakobus 4 : 6b

”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.”

Berita Anugerah/Petunjuk Hidup baru  Filipi 2 : 5-8

1.      Pada suatu hari, seorang pemuda datang dan bertanya, “Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda selalu berpakaian amat sederhana. Bukankah di masa seperti sekarang ini, penampilan sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan”. Sang guru hanya tersenyum; lalu ia melepaskan cincin dari salah satu jarinya. Ia berkata, “Sobat muda, aku akan menjawab pertanyaanmu, tetapi lebih dulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga Rp. 100.000 ?” Melihat cincin guru yang kotor, jelek, dan tidak beraturan itu, pemuda itu merasa ragu-ragu, “Seratus ribu ? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.” Tapi sang guru berkata, “Cobalah dulu sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu segera bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata tak satu pun dari mereka yang berani membeli cincin itu seharga Rp. 100.000. Mereka menawarnya hanya Rp. 10.000. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga sepuluh ribu Ia kembali melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari Rp. 100.000.” Sang Guru lalu berkata “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada sang Guru dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga 1 juta. Rupanya nilai cincin 10 kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Sang Guru tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itu jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai, jika kita mampu melihat ke kedalaman hati dan jiwa seseorang. Kita tidak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita lihat dan dengar secara sekilas.”

Dalam kehidupan sehari-hari, kerapkali kita menilai seseorang mungkin hanya dari penampilannya, dari baju yang dipakainya, atau mungkin dari tutur kata dan sikapnya yang kita lihat dan kita dengar, hanya sekilas. Akibatnya, sama seperti para pedagang di pasar tadi, kita jadi suka keliru, karena penampilan mereka, baju mereka, tutur kata dan sikap mereka, bisa saja mengelabui mata dan telinga kita.. Karena itu dalam 1 Sam. 16:7b dikatakan, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Sebab itu, jangan melihat seseorang hanya dari penampilannya, atau dari bajunya, atau kemasannya. Mengapa? Karena terus terang saja, pendengaran kita terbatas dan penglihatan kita sering keliru. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, ternyata hanya bisa kita lihat dan kita nilai, jika kita mampu melihat ke kedalaman hati dan jiwa seseorang. Untuk melihat kedalaman hati dan jiwa seseorang, dibutuhkan kerendahan hati.

2.      Dalam Zefanya 2 : 3 ; 12 – 13 Tuhan menginginkan agar manusia mencari Tuhan, dengan rendah hati melakukan perintah Tuhan. Carilah Tuhan hai semua orang yang rendah hati, carilah Tuhan hai semua orang yang melakukan hukum-hukum Tuhan. Dengan demikian, standard mutu yang ditetapkan Tuhan adalah carilah Tuhan, dan berendah hati. Seruan nabi Zefanya ini dilakukan beberapa tahun sebelum reformasi raja Yosia. Jadi beberapa saat sebelum reformasi itu, suasana sudah terasa kurang harmonis bahkan kacau balau. Zefanya menawarkan harapan kepada orang-orang yang sudah berbalik kepada Tuhan. Zefanya mengajak mereka untuk memperdalam janji kesetiaan mereka kepada Allah. Zefanya mengajak mereka supaya lebih taat kepada perintah dan hukum-hukum Tuhan. Dengan hal tersebut, mungkin Tuhan berkenan melindungi mereka ketika Ia datang untuk menghukum umatNya. Mereka harus rendah hati, serta menyadari ketidakberdayaannya.

3.      Dalam I Korintus 1 : 26 – 31, rasul Paulus menganjurkan jemaat Tuhan untuk rendah hati. Rasul Paulus mengingatkan bahwa Allah-lah yang meninggikan, melayakkan, dan membuat mereka menjadi jemaat berarti ditengah gereja. Dalam jemaat Korintus ini kerendahan diri menjadi sangat penting karena mereka adalah jemaat baru. Sebagai jemaat baru maka perangai gaya lama masih dibawa-bawa pada saat menjadi jemaat gereja. Perangai seperti menyombongkan diri, keinginan menjadi pahlawan atau tokoh yang disegani di gereja, dan keinginan menjadi sumber ketergantungan bagi kehidupan gereja masih belum hilang. Sikap hidup lama ini adalah warisan budaya yang tidak mendukung kehidupan berjemaat. Paulus sedikit demi sedikit menghilangkan perangai lama ini. Dengan seruan untuk rendah hati dan merendahkan diri dihadirat Tuhan, jemaat Korintus diajak supaya semakin dekat kepada Tuhan, dan semakin memenuhi panggilan pelayanan Tuhan.

4.      Ucapan bahagia atau Kotbah di Bukit dalam Matius 5 : 1 – 12 adalah hukum kehidupan baru, hukum kerajaan Allah. Ucapan bahagia ini berisi pernyataan prinsip-prinsip kebenaran Allah dengan mana semua orang kristen harus hidup oleh iman kepada Anak Allah dan kuasa Roh Kudus. Semua orang yang menjadi anggota Kerajaan Allah harus lapar dan haus akan kebenaran yang diajarkan dalam kotbah Kristus. Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata ‘praios’ ( terjemahan b.Ingris : meek ). Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema ucapan bahagia/kotbah Yesus di bukit  yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi (ayat 5). Orang yang lemah lembut adalah orang yang rendah hati dan patuh kepada Allah. Mereka berlindung kepada Tuhan. Mereka menyerahkan hidup dan masa depannya sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka lebih memperhatikan pekerjaan Allah dan umat Allah daripada hal-hal yang mungkin terjadi dalam diri mereka sendiri. Orang yang lemah lembut inilah yang akhirnya akan  memiliki bumi.

5.      Kerendahan hati adalah merasa tidak berdaya seperti “anak-anak” (Mat. 18:4); tidak mempertahankan kedudukan (Flp. 2:8-9); tidak merendahkan martabat orang lain (Luk. 14:11; 18:4). Dengan demikian kerendahan hati adalah bersikap ramah, terbuka, tidak sombong/tinggi hati, mampu menghargai martabat dan kelebihan orang lain, dan mudah menyesuaikan diri ditengah kondisi/pihak yang lebih rendah. Misalnya anggota jemaat kaya harus bersedia berkumpul dengan anggota jemaat miskin, begitu sebaliknya. Ketika yang kaya dan miskin berkumpul dalam gereja tidak ada kesombongan jemaat kaya, tidak ada rasa minder bagi jemaat miskin, mereka harus saling menghargai.  Allah tinggal bersama dengan orang yang hidup dengan rendah hati. Allah memberi kasih karunia yang lebih besar kepada orang yang rendah hati, tetapi menentang orang-orang yang congkak atau sombong (Yak 4:6b). Jadi lawan kerendahan hati adalah tinggi hati, sombong atau congkak.

6.      Yang menjadi dasar sikap rendah hati adalah diri Kristus sendiri. Rendah hati Kristus tampak mulai dari kelahiranNya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidupNya, dan akhirnya kerendahan dalam pengorbananNya di Kayu Salib. Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain (Yohanes 13:1-17). Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki, ini berarti kita harus saling melayani dan merendahkan diri. Rendah hati berarti rela untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti rela melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Dengan kata lain, kerendahan hati tidak dipahami sebagai rendah diri atau menghinakan diri.

7.      Yakobus menegaskan dalam Yak 4: 10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”. Demikian juga I Petrus 5:6 ” Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya ” ( I Ptr 5:6 ). Dengan rendah hati, kita akan ditinggikan oleh Tuhan. Promosi/peninggian dari Tuhan adalah promosi yang sejati. Bila Tuhan sendiri yang meninggikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya. Selain itu rendah hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya.

8.      Orang yang rendah hati merasakan hidup yang selalu diberkati Tuhan meskipun kondisi senyatanya sangat sederhana, miskin, lemah, tidak berpendidikan, berkesusahan, dan sebagainya. Dalam tangis, miskin, lemah, dan dalam kondisi tidak  berpendidikan :  mereka tidak merasa kalah, tidak merasa minder, tetapi tetap ada ucapan syukur, tetap berbagi dengan tulus, dan tetap memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Orang-orang pengungsi dari Yogya, tetap mau kembali hidup di lereng gunung Merapi. Mereka harus menyingkir untuk sementara waktu, mereka menangis sedikit dalam waktu 1 sampai 3 bulan. Tapi mereka tetap bertahan dalam pengharapan. Gunung Merapi telah menyediakan bahan-bahan untuk kesuburan tanah pertanian mereka. Mereka tidak pernah dibuat jera oleh gunung Merapi. Mereka tidak mengumpat dan menyalahkan gunung Merapi. Malahan gunung Merapi yang meletus dipahami sebagai berkat Tuhan yang sedang melimpah. Gunung Merapi mengirimkan berjuta-juta kubik pasir, batu, dan bahan-bahan yang bermanfaat. Karena itu, mereka tetap tegar dan bersyukur ditengah ratap tangis dan kesedihan.

9.      Di tengah jaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, sangat sulit untuk menemukan orang yang rendah hati bahkan kerendah-hatian mungkin sudah tidak relevan lagi karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan. Rendah hati ditinggalkan oleh banyak orang. Persaingan mendorong orang berlomba-lomba untuk menjadi yang utama. Persaingan mendorong orang untuk berlomba-lomba mencegah orang lain menjadi yang utama. Semua orang ingin menjadi nomor 1. Tidak sedikit orang yang memandang dirinya lebih dari orang-orang lain. Persaingan mengakibatkan orang lebih menonjolkan penampilan luar misalnya bakat, kemampuan, prestasi, jabatan, kedudukan,  popularitas dan harga diri yang dicapainya di tengah masyarakat. Dengan hal-hal tersebut, orang lalu memandang dan menilai dirinya lebih hebat dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Maka persaingan melahirkan banyak kesombongan. Dalam Alkitab, kesombongan, tinggi hati atau congkak dipandang sebagai “akar dosa” karena mengesampingkan orang lain dan mengesampingkan Allah. Hidup dengan rendah hati akan membuat seseorang: menghargai dirinya dan bebas dari perangkap kesombongan. Dengan kerendahan hati orang dapat menerima dan menghargai dirinya dan menghargai orang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

10.  Salah satu musuh yang paling berbahaya yang mengancam orang-orang Kristen ialah kesombongan atau meninggikan diri sendiri. Tidak ada dosa lain yang bekerja dengan lebih licik dan lebih sembunyi- sembunyi daripada dosa kesombongan. Kesombongan itu tahu bagaimana menyelinap masuk ke dalam setiap hal. Kesombongan juga dapat menyusup ke dalam pelayanan gereja. Kesombongan juga dapat menyusup dalam doa-doa kita. Oleh karena itu orang-orang Kristen harus menjaga iman, hati, dan pikiran, dan perilakunya agar tidak disusupi kesombongan. Oleh karena itu kita harus memperhatikan apa yang diajarkan Alkitab mengenai kesombongan dan belajar kerendahan hati untuk mengenyahkan kesombongan..

11.  Bagaimana menjadi rendah hati? Kita semua sedang belajar untuk itu. Perenungan yang terus-menerus akan anugerah keselamatan yang sudah Bapa berikan melalui Yesus Kristus harus menjadi dasar yang kuat  untuk kita menjadi rendah hati. Kita “bukan siapa-siapa” tetapi kita diselamatkanNya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita tak henti-hentinya bersyukur dan tak bosan-bosannya merendahkan hati dan merendahkan diri dihadapan Tuhan.. Menjadi rendah hati adalah perjuangan seumur hidup. Namun kita tidak perlu khawatir karena kita mempunyai Tuhan yang rendah hati dan berjanji menolong kita menjadi rendah hati seperti Kristus Yesus. Amin

 

KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

 

 

Oleh : Kristyan DwijosusiloIntroitus Ayub 14 : 1 – 2
‘ Manusia yang lahir dari perempuan singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu. Seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan  tidak dapat bertahan. “
Bacaan I           Ayub 19 : 25 – 27.

Bacaan II         2 Tesalonika 2 : 16 – 3 : 5

Bacaan III        Lukas 20 : 27 – 38.
Ketika manusia dihadapkan pada dua situasi yang berbeda, bahkan bertolak belakang, ada kecenderungan untuk menentukan pilihan berdasarkan atau yang berpusat pada dirinya sendiri. Sesuatu yang menyenangkan, terlihat indah di matanya, menguntungkan dirinya, dsb, akan cenderung dipilih dan diyakini sebagai yang baik bagi dirinya, daripada sesuatu yang menyedihkan, menyakitkan, atau merugikan dirinya. Maka tidak mengherankan banyak di antara kita kurang bisa menerima penderitaan, kesedihan, kerugian, dibandingkan dengan kesenangan, keuntungan, dsb.
Dari Ayub 14:1-2 kita tahu bahwa setiap manusia pasti meninggal dunia. Kemudian kita akan ditantang oleh pertanyaan : Apa yang terjadi kepada kita setelah kita meninggal dunia? Apakah kita hilang begitu saja? Apakah hidup itu suatu pintu yang berputar di mana orang datang dan pergi dari dunia ini supaya mendapat kemuliaan dan kebesaran? Apakah setiap orang pergi ke tempat yang sama, atau kita pergi ke tempat yang berbeda-beda? Apakah surga dan neraka ada, atau itu hanya suatu angan-angan? Manakah yang kita pilih sorga ataukah neraka? Bagaimana seharusnya hidup yang sesuai dengan pilihan kita ?
Alkitab mengatakan bukan saja ada kehidupan setelah kematian, namun ada hidup kekal yang begitu mulia. Dalam 1 Korintus 2:9 dinyatakan bahwa “yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Yesus Kristus, Allah dalam wujud manusia, datang ke dunia ini untuk memberi kita karunia hidup kekal. Yesus menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung dan mengorbankan nyawaNya sendiri. Tiga hari kemudian, Dia membuktikan kemenanganNya atas kematian dengan bangkit dari kubur, dalam Roh dan tubuh. Dia tetap tinggal di bumi ini untuk empat puluh hari lamanya dan dilihat oleh ribuan orang sebelum akhirnya Dia naik ke rumahNya yang kekal di Surga. Roma 4:25 mengatakan, “Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Roma 4:25).
Kebangkitan Kristus adalah peristiwa yang dicatat dengan baik. Rasul Paulus menantang orang-orang yang mempertanyakan keabsahannya dan tidak seorangpun dapat menolak kebenarannya. Kebangkitan adalah batu penjuru dari iman Kristen. Karena Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, kita percaya kita pun akan dibangkitkan. Paulus menasihati beberapa orang-orang Kristen mula-mula yang tidak percaya atas kebangkitan: “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1 Korintus 15:12-13).
Kristus adalah hasil pertama dari panen besar orang-orang yang akan dibangkitkan kembali. Kematian fisik menimpa semua orang melalui satu orang, Adam, yang punya hubungan dengan kita semua. Namun semua orang yang telah diadopsi ke dalam keluarga Allah melalui iman dalam Yesus Kristus akan diberikan hidup baru (1 Korintus 15:20-22). Sebagaimana Allah membangkitkan tubuh Yesus, demikian pula tubuh kita akan dibangkitkan saat Yesus datang kembali (1 Korintus 6:14).
Walaupun pada akhirnya kita semua akan dibangkitkan, tidak semua orang akan masuk ke Surga. Dalam hidup ini setiap orang harus membuat pilihan di mana dia akan hidup dalam kekekalan. Alkitab mengatakan bahwa manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27). Mereka yang telah dibenarkan akan hidup kekal di surga, tetapi orang-orang yang tidak percaya akan masuk ke dalam hukuman kekal, atau neraka (Matius 25:46).
Sama seperti surga, neraka bukan hanya suatu keadaan, tapi merupakan sebuah tempat yang nyata. Neraka adalah sebuah tempat di mana orang-orang yang berdosa akan mengalami murka Tuhan secara kekal dan tanpa akhir. Mereka akan mengalami siksaan secara emosi, mental, dan fisik. Mereka akan merasa malu, menyesal dan bersalah.
Neraka digambarkan sebagai jurang yang tanpa dasar (Lukas 8:31, Wahyu 9:1), lautan api dan belerang, di mana para penghuninya disiksa siang dan malam untuk selama-lamanya (Wahyu 20:10). Di neraka akan ada tangisan dan kertak gigi, menunjukkan kesusahan dan kemarahan yang amat sangat (Matius 13:42). Neraka adalah tempat “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam” (Markus 9:48). Allah tidak menikmati kebinasaan orang-orang jahat, namun Tuhan justru menginginkan kita berbalik dari jalan-jalan sesat supaya hidup (Yehezkiel 33:11).
Dengan demikian, Alkitab menyatakan bahwa kehidupan setelah kematian ada 2 yakni hidup kekal sebagai warga kerajaan sorga, dan siksaan kekal sebagai warga neraka. Jika kita harus memilih maka kita pasti akan lebih memilih hidup kekal setelah kematian. Jika kita memilih hidup kekal, lantas bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan sekarang ini ?
Hidup di atas bumi ini adalah suatu ujian, suatu persiapan untuk apa yang akan datang.. Jadi bagaimana kita dibenarkan dan dapat menerima hidup kekal ? Hanya ada satu jalan – melalui iman dan kepercayaan kepada Anak Allah, Yesus Kristus.  Dalam Yohanes 11:25-26, Tuhan Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.…”
Dalam bacaan I Ayub 19 : 25 – 27, Ayub menubuatkan keyakinan bahwa setelah tubuhnya rusak didalam kubur, ia akan dibangkitkan kembali secara jasmaniah dan melihat Allah Penebusnya di dalam tubuh kebangkitannya. Hal ini mengandung bibit-bibit pernyataan Allah tentang kedatangan Tuhan Yesus pada akhir zaman, kebangkitan setelah kematian dan pembenaran terakhir semua orang yang setia kepada Allah. Dengan kata lain, Ayub mengungkapkan harapan akan kehidupan kekal. Dasar penantian yang penuh harap ini ialah kasih Allah yang sungguh-sunggguh bagi umat-Nya. Ditengah-tengah penderitaan dan keputusasaan, Ayub dengan iman yang besar berpaut kepada Allah, sebab ia percaya bahwa pada akhirnya Tuhan akan membenarkan dirinya. Ditengah penderitaan dan keputusasaan, Ayub memandang Allah sebagai penebus. Hanya Tuhan yang dengan penuh kasih menjadi penolong ditengah kesulitan. Meski, pada akhirnya Ayub mati secara fisik, namun Ayub yakin Tuhan menempatkannya dalam kehidupan kekal.
Bacaan II  ( II Tesalonika 2 : 16 – 3 : 5 ) merupakan surat penghiburan atas penganiayaan dan penderitaan yang dialami jemaat Tesalonika. Selain itu juga berisi jawaban atas permasalahan-permasalahan dogmatis maupun moral di tengah jemaat yang masih cukup baru. Ditengah penganiayaan dan penderitaan yang dialami jemaat Tesalonika, Rasul Paulus mengajak untuk memandangnya dalam kaca mata kedatangan  Yesus kembali. Paulus membesarkan hati, memberikan harapan baik kepada jemaat Tesalonika. Harapan baik itu adalah kepastian hidup kekal setelah kematian. Penderitaan dipandang dengan lebih positif, yakni untuk menampakkan keadilan Tuhan (II Tes. 1: 6) dan pada gilirannya akan membawa kemuliaan Tuhan bagi umat-Nya yang tetap setia pada Kristus. Rasul Paulus mengajak jemaat Tesalonika supaya mengandalkan Tuhan untuk menjadi kuat dan selamat ditengah penderitaan dan penganiayaan. Melalui doanya, Paulus mengharap agar jemaat Tesalonika berkata dan melakukan apa yang baik. Mereka juga diyakinkan, bahwa dengan kekuatan Tuhan jemaat Tesalonika memiliki kekuatan untuk melawan perkataan dan perbuatan yang tidak baik, dan melawan orang-orang yang berusaha menghentikan pekabaran Injil.
Bacaan III ( Lukas 20 : 27 – 38 ). Kaum Saduki adalah kelompok kecil yang biasanya beranggotakan para imam dan aristokrat. Mereka ini, biarpun kelompok kecil, biasanya merupakan kelompok berpengaruh, karena pada umumnya mereka kaya. Kaum Saduki hanya menerima hukum yang tertulis, yakni hanya Kitab Suci Perjanjian Lama. Perjanjian lama yang mereka terima juga lebih terbatas pada hukum Musa dan tak peduli dengan kitab para Nabi. Kaum Saduki tidak percaya pada kebangkitan setelah kematian. Kaum Saduki percaya pada kehendak bebas yang tak terbatas. Kaum Saduki tidak percaya dan tidak mengharap kedatangan Mesias, sebab itu bisa mengganggu posisi mereka yang makmur.
Dengan latar belakang seperti itu, kita bisa memahami alasan kaum Saduki datang pada Yesus dan mencoba membenarkan keyakinan mereka tentang tidak adanya kebangkitan, menggunakan logika mereka. Sebagai kaum imam mereka tahu hukum perkawinan Yahudi, yakni kalau seorang laki-laki yang sudah menikah meninggal tanpa anak maka saudaranya yang lain harus menikahi iparnya tersebut untuk melanjutkan keturunan saudaranya yang telah meninggal (Ulangan 25: 5). Kaum Saduki yakin sekali bahwa ini merupakan hukum yang mengikat, sebab terdapat dalam Kitab Musa. Pertanyaan orang Saduki yang ingin melecehkan kepercayaan tentang kebangkitan juga didasari atas pemahaman awal bahwa kalau memang ada kebangkitan maka akan ada keruwetan antar hubungan manusia, misalnya berdasarkan aturan perkawinan antar ipar. Itulah sebabnya, orang Saduki yakin bahwa kebangkitan itu tidak ada. Hidup hanya satu kali dan setelah mati tidak akan ada apa-apa lagi sebagai kelanjutan dari yang mati. Kehidupan hanya ada pada yang masih hidup, sementara yang mati sudah selesai hidupnya.
Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kehidupan di Sorga berbeda dengan hidup di dunia. Yesus memberi keterangan bahwa sebaiknya jangan membayangkan bahwa hidup sesudah kehidupan di dunia ini akan sama saja. Surga dan dunia jauh berbeda. Yesus memberi jawaban yang luar biasa benar dan sah untuk selamanya. Yesus memberi keterangan bahwa kehidupan di surga itu merupakan kehidupan yang kekal, tak berakhir. Di sorga tidak ada kawin dan mengawinkan. Kehidupan di sorga bagaikan hidup para malaikat yang tidak mati. Mereka akan bersifat rohani dan menjadi  bagian dari kelurga Allah di sorga. Dan karena yang bertanya adalah kaum Saduki yang begitu menghormati hukum Musa, maka Yesus juga mengutip dari Keluaran 3: 1-6 tentang “pertemuan Musa dengan Allah” di bukit pada saat Musa melihat semak berapi tetapi tak terbakar. Menurut Yesus, Musa sendiri percaya pada kebangkitan, sebab ia memanggil Allah sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Dengan demikian Musa yakin bahwa ketiga orang tersebut adalah hidup, sebab Allah adalah Allah orang-orang hidup dan bukan Allah orang mati. Disini berarti mereka hidup bersama Allah. Jenasah mereka sudah lama dikuburkan, namun Allah adalah Allah yang hidup. Orang percaya hidup di dalam Allah yang hidup. Kehidupan sejati ada dalam hubungan dengan Allah. Hubungan seperti itu tidak akan berakhir ketika seorang mati.
Orang-orang Saduki yang tidak percaya adanya kebangkitan setelah kematian adalah orang yang memandang hidup hanya satu kali, hidup ini singkat, dan hidup ini sekedar istirahat (mampir ngombe). Mereka takut pada kematian, kesakitan dan berbagai bentuk penderitaan. Untuk mengatasi ketakutan tersebut, mereka berusaha memperoleh kesenangan dunia sebelum menjadi tua dan sakit-sakitan kemudian mati. Mereka bekerja keras untuk mewujudkan rancangan masa depan yang penuh kebahagiaan di dunia. Mereka mengisi hidup dengan kegiatan yang seefektif dan seefisien mungkin agar tidak menyesal dikemudian hari. Mulai lahir sampai ajal menjemput, berbagai bentuk program hidup dilalui dan dievaluasi untuk terus disempurnakan. Mereka kehilangan sifat hakiki sebagai gambar Allah dan menghalalkan segala cara. Cara apapun akan ditempuh seseorang demi mencapai tujuannya, sekalipun harus menipu, menindas, atau menyingkirkan orang lain
Sedangkan orang yang memilih hidup kekal setelah kematian adalah orang yang membuka diri untuk menerima  Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Mereka memandang bahwa hidup tidak hanya di dunia ini saja, dan hidup tidak diakhiri dengan kematian. Mereka senantiasa membaca, memahami, dan melaksanakan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari. Mereka tidak takut pada kematian, kesakitan, dan berbagai penderitaan. Pada saat mengalami penderitaan mereka tetap setia kepada Tuhan. Orang yang memilih hidup kekal setelah kematian, tetap memiliki kasih ditengah kerja keras mereka dalam upaya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup di dunia. Mereka senantiasa melibatkan dan mengandalkan Tuhan dalam jerih lelahnya di dunia ini. Mereka memiliki rancangan masa depan yang berhasil sesuai dengan kehendak Tuhan, mereka juga memiliki rancangan peningkatan kualitas iman dan pelayanan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia.

Yesus Kristus bersungguh-sungguh meyakinkan manusia tentang adanya kehidupan setelah kematian. Yesus Kristus bersungguh-sungguh menegaskan bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan. Untuk itu, Tuhan Yesus tidak hanya membangkitkan orang mati (misalnya Lazarus yang tentunya mati lagi) namun Dia sendiri bersedia mati dengan cara yang sangat mengerikan untuk kemudian bangkit kembali (untuk tidak mati lagi). Keyakinan atas karunia hidup kekal dari Allah akan melahirkan damai dalam hidup manusia. Pikiran sempit manusia yang merasa hidup ini singkat atau sekedar  beristirahat sejenak, digugurkan oleh kasih Allah dalam Kristus Yesus yang  memberi karunia hidup kekal. Kebebasan berpikir manusia karena ketakutan pada hari esok  telah disingkirkan oleh Allah yang senantiasa mewujudkan janjiNya. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak takut pada kematian, kesakitan, dan berbagai bentuk penderitaan. Yang ada adalah kreativitas dalam mengasihi Allah dan sesama manusia, dan kreativitas dalam menghadapi kematian, kesakitan, dan berbagai bentuk penderitaan. Amin.

MEWUJUDKAN PENGERTIAN FIRMAN TUHAN DALAM KEHIDUPAN NYATA

Oleh : Kristyan Dwijosusilo

Pengantar ayat Yohanes 14 : 21. Ayat Nats Lukas 10 : 25 – 37

A. Mengapa ahli Taurat yang mengerti seluruh isi Kitab Taurat tidak melakukan perbuatan seperti perintah yang tertulis dalam Kitab Taurat ?.

  1. Ahli Taurat adalah orang-orang ahli atau para pakar.  Sebagai seorang ahli maka pekerjaan mereka adalah mendiskusikan, merumuskan, dan menyampaikan pemahaman kepada masyarakat. Pekerjaan Ahli Taurat seperti itu merupakan  pekerjaan strategis. Mereka tidak seharusnya berpikir tehnis tentang bagaimana  melaksanakan isi Kitab Taurat. Pekerjaan tehnis adalah tugas masyarakat awam. Ahli Taurat memberi tafsiran yang dapat berwujud perintah tetapi tafsiran itu bukan untuk dirinya. Ahli Taurat merasa berkewajiban untuk merumuskan “garis-garis besar” bagaimana seharusnya perbuatan yang sesuai dengan Kitab Taurat kepada masyarakat Yahudi. Berdiskusi, merumuskan, dan menyampaikan pengertian Kitab Taurat dipandang merupakan pekerjaan yang lebih berharga dan lebih penting daripada pekerjaan melaksanakan isi Kitab Taurat. Seorang ahli Taurat memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada masyarakat umum. Melaksanakan isi kitab Taurat seperti yang dilakukan masyarakat umum berarti dapat menurunkan status sosial mereka ditengah masyarakat.
  2. Ahli Taurat adalah jabatan yang resmi yang diberikan kepada pemerintah saat itu. Tugas mereka adalah memasyarakatkan isi Kitab Taurat. Model pemasyarakatan kitab Taurat dilakukan secara Top-Down (dari atas kebawah).  Ahli Taurat  menyampaikan tafsiran sebagai satu-satunya kebenaran yang harus dipatuhi warga. Seringkali, untuk mendapatkan kepatuhan,  Ahli Taurat menggunakan otoritas jabatannya untuk memaksa masyarakat agar patuh. Selain itu, otoritas jabatan sebagai Ahli Taurat juga dipergunakan untuk menolak  tafsir-tafsir lain yang berbeda dari tafsirnya Ahli Taurat.
  3. Ahli Taurat memiliki kewenangan secara legal untuk mencermati setiap ajaran yang berbeda dari Kitab Taurat. Tuhan Yesus sendiri dalam (Matius 5 : 17) menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab Para Nabi, tetapi menggenapinya. Ahli Taurat memandang bahwa ajaran yang disampaikan Tuhan Yesus  adalah ajaran baru yang berbeda dari apa yang selama ini dipahami. Penggenapan hukum Taurat dan kitab para nabi itu seperti apa ? oleh karena itulah Ahli Taurat, Orang Farisi, dan Saduki seringkali hadir ditengah pengajaran Tuhan Yesus. Mereka hadir untuk mencermati atau menganalisa setiap perkataan dan perbuatan Tuhan Yesus. Perkataan dan perbuatan Tuhan Yesus dipandang sebagai objek untuk dicari kelemahan-kelemahannya. Upaya untuk mencari kelemahan Tuhan Yesus seringkali dilakukan ditempat terbuka, ditengah-tengah masyarakat. Ahli Taurat hanya berpikir bagaimana caranya mempermalukan Tuhan Yesus dihadapan orang-orang yang ada saat itu. Inilah alasan mengapa ahli Taurat lebih suka dan seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, menjebak, dan menggiring kearah perdebatan, seperti yang terjadi dalam Lukas 10 : 25 dan 29, daripada melakukannya dalam hidup sehari-hari.
  4. Ahli Taurat memang sudah terbiasa mencobai. Pengertian mencobai yang dilakukan Ahli Taurat tidak sama dengan pencobaan yang dilakukan iblis kepada Tuhan Yesus. Sebelum Tuhan Yesus hadir, para Ahli Taurat tentunya juga telah melakukan pencobaan kepada masyarakat saat itu. Pencobaan yang dilakukan Ahli Taurat layaknya seorang guru yang mengetes muridnya, atau seorang dosen yang menguji skripsi, tugas akhir, tesis atau desertasi mahasiswanya. Dalam “mencobai” Tuhan Yesus, Ahli Taurat menempatkan Tuhan Yesus sebagai siswa. Ahli Taurat merasa lebih tua, lebih senior, lebih berpengalaman, dan lebih menguasai Kitab Taurat. Sebaliknya, dimata Ahli Taurat, Tuhan Yesus dipandang sebagai anak muda yang sedang belajar. Oleh karena itulah, pencobaan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang lebih bersifat menguji atau mengetes kemampuan Tuhan Yesus. Kata “mencobai” berarti Ahli Taurat memang sudah mengetahui jawabannya. Ketika bertanya “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal “, ahli Taurat sudah tahu bahwa jawabannya adalah “mengasihi Tuhan dan sesama manusia”. Ahli Taurat berharap jawaban Tuhan Yesus sama seperti jawaban yang ada dalam pikirannya, dan jawabanya sama seperti yang dilakukan ahli Taurat selama ini. Namun diluar perkiraan, jawaban Tuhan Yesus tidak sama. Justru sebaliknya, jawaban Tuhan Yesus sekaligus menjadi kritik tajam bagi Ahli Taurat sebab ahli Taurat berpikir teoritis sedangkan Tuhan Yesus menyatakan bahwa teori harus dipraktekkan. Jawaban Tuhan Yesus yang sedemikian keras adalah kritik yang selama ini tidak pernah  ada seorangpun berani kepada Ahli Taurat. Ini berarti Tuhan Yesus memang lebih hebat dari ahli Taurat dan ahli-ahli apapun didunia ini.
  5. “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal ?”. artinya Ahli Taurat selalu memikirkan dan menginginkan hasil atau manfaat apa yang akan diperoleh/didapat dengan berbuat sesuatu. Saya akan berbuat bila saya mendapat manfaat atau keuntungan. Ahli Taurat sama seperti seorang Imam dan orang Lewi yang membiarkan korban perampokan tetap menderita. Mereka berpikir bahwa menolong korban perampokan tidak akan memberi manfaat padanya, justru sebaliknya membuatnya “repot”. Orang yang menjadi korban perampokan adalah orang asing, tidak akan mampu memberi balasan yang setimpal karena dia sudah  tidak mempunyai apa-apa. Ahli Taurat selalu menginginkan balasan materi. Bagi Ahli Taurat “kehidupan kekal” yang dinyatakan Tuhan Yesus merupakan sesuatu yang non-materil. Pertanyaan itu dapat berarti “apa yang harus aku lakukan secara nyata untuk mendapatkan sesuatu yang tidak nyata”. Ahli Taurat berpikir bahwa hanya dengan membaca, mengetahui, memahami, dan mengajarkan tanpa perlu melakukan isi Kitab Taurat sudah cukup baginya untuk memperoleh kelimpahan harta, jabatan, kedudukan dan kehormatan ditengah masyarakat. Tetapi jawaban Tuhan Yesus “ pergilah dan  perbuatlah demikian “ berarti apa yang dilakukan  dan apa yang dibanggakan Ahli Taurat dimata Tuhan Yesus ternyata belum cukup. Tuhan melengkapi bahwa setiap orang yang mengerti firman Tuhan harus melakukan dalam perbuatan sehari-hari untuk memperoleh harta sorgawi ketika hidup didunia maupun sesudah kematianya.

B. Perbuatan sehari-hari yang bagaimanakah yang dikehendaki Tuhan sebagai perwujudan tentang firmanNya ?

b1. Jawaban Tuhan Yesus “jawabmu benar, perbuatlah demikian (ayat 28), dan “orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya “, jawab Yesus “pergilah dan perbuatlah demikian” (ayat 37). Kalimat ini mengandung pengertian bahwa perbuatan sebagai wujud pengertian kita tentang firman Tuhan adalah perbuatan yang berdasarkan pada pengertian yang benar tentang firman Tuhan. Sebelum kita melakukan perbuatan maka kita harus memiliki pengertian yang benar tentang firman Tuhan terlebih dahulu. Pengertian yang benar tentang firman Tuhan akan menjadi jalur yang harus kita taati supaya perbuatan itu tetap berada pada jalur yang kehendaki Tuhan. Pengertian yang benar tentang firman Tuhan  menjadi pagar pembatas supaya perbuatan kita tidak keluar dari batas dan ketentuan yang ada dalam Alkitab. Oleh karena itu, gereja membutuhkan seorang ahli Alkitab yang membantu jemaat lain untuk lebih mudah memahami firman Tuhan. Ahli Alkitab yang bisa memberi pengertian yang benar tentang firman Tuhan. Apa yang terjadi jika gereja tidak punya jemaat yang ahli dalam memahami firman Tuhan, mungkin dalam ibadah hanya dibacakan firman Tuhan saja lalu tidak ada kotbah,  pasti juga tidak ada kegiatan PA (Pemahaman Alkitab), tidak bisa menemukan jawaban alkitabiah atas persoalan yang dihadapi jemaat, dan akhirnya banyak kegiatan pelayanan dan peribadatan menjadi hambar. Namun demikian, ahli Alkitab yang dibutuhkan juga tidak boleh sama dengan Ahli Taurat jaman Tuhan Yesus. Gereja memerlukan

  • Ahli Alkitab yang rajin membaca, memahami, mendiskusikan, dan merumuskan kebenaran firman Tuhan untuk membantu menambah pengertian jemaat lain yang kurang mampu memahami firman Tuhan.
  • Ahli Alkitab yang juga gemar membaca buku-buku Kristen sebagai referensi dalam memahami firman Tuhan, bila perlu ahli Alkitab  memiliki pendidikan akademis Teologi.
  • Ahli Alkitab yang mampu menyampaikan pengertian yang benar tentang firman Tuhan dengan cara dan bahasa yang mudah dimengerti jemaat lain.
  • Ahli Alkitab yang memiliki  sikap dan perbuatannya yang benar sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan dalam firmanNya.
  • Ahli Alkitab yang mau menerima pendapat orang lain, tidak memaksakan pendapatnya, tidak mengklain bahwa hanya pendapatnyalah yang paling benar dan menganggap pendapat orang lain tidak benar.
  • Ahli Alkitab yang tidak mencobai, tidak menghakimi, dan tidak menciptakan kebingungan dan konflik pendapat dalam diri jemaat.
  • Ahli Alkitab yang tidak pernah mengajukan penawaran didepan tentang kepentingan pribadinya pada saat dibutuhkan oleh  jemaat.

b2. Jawaban Tuhan Yesus “jawabmu benar, perbuatlah demikian (ayat 28), dan “orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya, jawab Yesus “pergilah dan perbuatlah demikian” (ayat 37). Kalimat ini mengandung pengertian bahwa “pengertian yang benar tentang firman Tuhan” adalah sebab, sedangkan “pergilah dan perbuatlah demikian” adalah akibat yang mengikutinya. Nampaknya untuk menemukan pengertian yang benar merupakan pekerjaan yang sulit, memerlukan pemikiran yang mendalam, memerlukan diskusi yang melelahkan, memerlukan kerajinan membaca firman Tuhan, memerlukan kehadiran rutin dalam kegiatan dan sebagainya. Dimana semua itu sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran, sementara disisi lain kita juga harus menyelesaikan pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari. Akhirnya, banyak jemaat yang mengambil jalan dengan “melakukan perbuatan baik kepada semua orang, yang penting tidak menyakiti orang lain, yang penting tidak sombong, tidak iri hari hati, suka menolong, dan sebagainya. Sementara pemahaman Alkitab urusan nanti jika masih tersisa waktu. Ini berarti banyak jemaaat yang melakukan perbuatan baik tanpa perlu memahami Alkitab terlebih dahulu.

Perbuatan baik yang tidak didasari pengertian yang benar tentang firman Tuhan adalah perbuatan yang tidak digerakkan oleh Firman Tuhan, tetapi digerakkan oleh  pikiran, hati, dan perasaan. Pikiran, hati dan perasaan kita lebih dominan, memiliki peranan yang lebih utama, dan mendapat kedudukan yang lebih tinggi daripada firman Tuhan. Pikiran, hati, dan perasaan yang tidak bersedia dikontrol oleh firman Tuhan.

Dalam Lukas 10 : 25-37, Tuhan Yesus  menegur ahli Taurat yang mengerti firman tetapi tidak melakukan dalam tindakan nyata, maka hal sebaliknya juga dapat terjadi pada kita sekarang ini. Tuhan juga akan menegur kita yang melakukan perbuatan tanpa mau mengerti tentang   tentang firman Tuhan. Melakukan perbuatan tanpa pengertian tentang firman Tuhan adalah hidup yang tidak lebih benar daripada ahli Taurat dan orang Farisi. Dengan kata lain, melakukan perbuatan tanpa pengertian tentang firman Tuhan adalah serupa dengan Ahli Taurat dan orang Farisi. Oleh karena itu Tuhan menyatakan dalam Matius 5 : 21 “ Jika hidup keagamaamu tidak lebih benar daripada Ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesunguhnya kamu tidak akan masuk kerajaan sorga. Tuhan tidak mengenal orang yang melakukan perbuatan tanpa didasari pengertian yang benar tentang firman Tuhan. Sebagaimana Matius 7 : 22-23 “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaku : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan banyak mengadakan mukjizat demi namaMu juga. Pada waktu itulah Tuhan akan berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu, enyahlah dari hadapanKu….”

b.3. Jawaban Tuhan Yesus “jawabmu benar, perbuatlah demikian (ayat 28), dan “orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya, jawab Yesus “pergilah dan perbuatlah demikian” (ayat 37). Pernyataan ini dikatakan setelah Tuhan Yesus mengetahui bahwa ternyata Ahli Taurat mengetahui hukum kasih. Ini berarti Tuhan Yesus menyatakan bahwa apabila kita mengetahui satu pengertian tentang firman Tuhan maka sesegera mungkin kita harus melakukannya. Dengan kata lain, kalau ingin melakukan perbuatan sesuai firman Tuhan, jangan menunggu setelah kita memiliki banyak ayat hafalan atau banyak pengertian. Misalnya satu bulan penuh kita memahami firman Tuhan, baru setelah itu kita melakukannya. Sekali dapat pengertian maka segera wujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Begitu sangat dekatnya waktu antara memahami firman Tuhan dengan mempraktekan maka sesungguhnya antara pengertian firman Tuhan dan perbuatan nyata merupakan satu kesatuan.   Jawabmu benar, perbuatlah demikian adalah sebab akibat yang merupakan kesatuan, sehingga bisa juga dinyatakan sebagai pengertian dan perbuatan. Yohanes 14 : 21 menyatakan “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku, dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya”.

b4. Perbuatan nyata yang merupakan wujud pengertian yang benar tentang firman Tuhan adalah perbuatan yang memiliki tujuan. Rasul Paulus menyatakan dalam I Korintus 9 : 26  “ aku tidak berlari tanpa tujuan, aku bukan petinju yang sembarang saja memukul “. Perbuatan kita yang berdasar firman Tuhan bukan perbuatan tanpa tujuan dan arah. Orang Samaria memberi pertolongan kepada orang sakit korban perampokan karena ada dorongan kasih, lalu dinyatakan dengan menaikkan keatas keledai, membawanya (memindahkan) dari jalanan ke tempat penginapan, merawatnya, memberinya biaya pengobatan, dan siap mengganti bila uang yang diberikan ternyata kurang, dan mewariskan perbuatan kasih kepada orang lain ( yaitu menyuruh pemilik penginapan untuk meneruskan perawatan ). Tujuan utama atau missi perbuatan orang Samaria yaitu supaya orang sakit korban perampokan itu sembuh. Namun sebenarnya ada tujuan positif lain yang mengikutinya yaitu pemilik penginapan mendapat uang, dan sekaligus dipercaya melanjutkan perbuatan kasih yang telah diawali oleh orang Samaria. Jadi satu jenis perbuatan (menolong) memiliki tiga manfaat yaitu kesembuhan, keuntungan ekonomi bagi pemilik penginapan, dan mengajarkan sikap kasih kepada orang lain (pemilik penginapan). Dengan kata lain, perbuatan sebagai wujud pengertian yang benar tentang firman Tuhan adalah perbuatan yang bermanfaat bukan sebaliknya perbuatan yang malah menimbulkan masalah.

Perbuatan yang merupakan wujud pengertian  tentang firman Tuhan adalah perbuatan yang setelah selesai dilakukan

  • Tidak meninggalkan sampah, jadi harus kembali bersih dan rapi.
  • Tidak meninggalkan sisa pekerjaan bagi orang lain, jadi harus benar-benar selesai dengan tuntas.
  • Tidak menimbulkan kerusakan, jadi harus  membawa perbaikan.
  • Tidak menimbulkan kemarahan dan permusuhan, jadi harus menimbulkan persahabatan dan sukacita.

Jika perbuatan itu menimbulkan masalah, akibatnya kehadiran kita pasti akan ditolak. Sebagaimana dinyatakan Rasul Paulus dalam I Korintus 9 : 27  “ Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah aku memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak “.

Untuk itu Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10 : 16b). Ini berari perbuatan yang merupakan wujud pengertian tentang firman Tuhan adalah perbuatan yang harus memiliki strategi dan tehnik-tehnik tertentu, harus dipersiapkan dengan cermat, harus dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, dan tentunya harus digerakkan oleh kasih serta tetap mengandalkan pimpinan dan kehendak Tuhan.

C. Penutup

Demikianlah, firman Tuhan ini telah menegur dan menguatkan kita.

  • Jika kita  seperti ahli Taurat. “Tuhan ampunilah saya, saya ingin seperti apa yang Engkau kehendaki”.
  • Apabila sampai saat kita belum menyatakan  firman Tuhan dalam perbuataan nyata maka sudah saatnya kita harus mengambil keputusan untuk mewujudnyatakan, tidak ada kata terlambat bagi orang yang bersedia berbuat demi kemuliaan nama Tuhan dan kasih kepada sesama manusia. “Tuhan sekarang aku siap sedia, menyatakan kemuliaan dan kasihMu melalui perbuatanku sehari-hari”
  • Apabila saat ini kita sudah  menyatakan firman Tuhan dalam perbuatan sehari-hari marilah kita introspeksi apakah perbuatan itu sudah sesuai dengan Lukas 10 : 25 – 37. Jika sudah sesuai bersyukurlah atas pimpinan dan penyertaan Tuhan. Jika belum sesuai marilah kita sesuaikan. Setelah itu, jangan pernah berhenti, teruslah menyatakan firman Tuhan dalam perbuatan nyata sampai akhir zaman. Amin.

FIRMAN TUHAN MENGALAHKAN KEKUATAN IBLIS

Oleh : Kristyan Dwijosusilo

Introitus : Ibrani 4 : 14 – 15

” Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang kepada pengakuan kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya, sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Materi    : Lukas 4 : 1 – 13 (Pencobaan di padang gurun.)

  1. Untuk memahami makna ”Pencobaan” bisa kita ketahui dari proses percobaan di laboratorium yang menggunakan mahluk hidup sebagai objek atau dalam bahasa sehari-hari disebut dengan ”kelinci percobaan”. Hewan yang biasanya untuk percobaan adalah tikus, kera, dan kelinci. Percobaan ini biasanya dilakukan untuk kepentingan pengobatan, pertanian, perikanan, dan biologi. Misalnya, seorang ahli ingin memperoleh khasiat obat bagi manusia, maka sebelum diterapkan kepada manusia terlebih dahulu diuji cobakan kepada binatang, misalnya diuji cobakan kepada kelinci. Kelinci sebagai objek percobaan ditempatkan ditempat khusus, kemudian disuntik penyakit, dibiarkan sejenak, setelah terjangkit penyakit, kemudian disuntik obat yang sedang diuji khaziatnya, setelah itu dilakukan pengamatan dan pencatatan perubahan yang terjadi pada kelinci, apabila belum sembuh, kelinci itu disuntik obat lagi kemungkinan dengan dosis yang berbeda. Demikian, hal itu dilakukan terus-menerus sampai akhirnya ditarik kesimpulan bahwa ternyata obat tersebut memang dapat menyembuhkan atau sebaliknya obat tersebut tidak berkhaziat untuk menyembuhkan penyakit.
  2. Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun selama 40 hari dan dicobai iblis. Dari ketiga jenis pencobaan yang dilakukan iblis kita dapat mengetahui unsur penting yang dialami Tuhan Yesus. Melalui proses pencobaan yang terjadi maka unsur penting yang dimaksud adalah bahwa kita dapat mengetahui
    1. Mesias atau Juru Selamat seperti apakah Yesus itu, dan
    2. Mengetahui bagaimana Kristus mempergunakan urapan yang diterimanya dari Allah. Dalam hal ini  (1).  Apakah untuk memenuhi kepentingan diri sendiri yakni ketika Kristus merasa lapar maka akan lebih mengutamakan makan dan minum untuk memulihkan fisiknya seperti yang dianjurkan iblis, ataukah lebih memilih firman Tuhan untuk mengenyangkan imanya sebagaiman perintah firman Tuhan. ( ayat 3 dan 4 ). (2) Apakah ingin memperoleh kemuliaan dan menjadi penguasa atas bangsa-bangsa atas kerajaan di dunia seperti yang dianjurkan iblis,  ataukah lebih memilih salib dan jalan kesengsaraan dalam menebus dosa manusia untuk menerima kemuliaan dan menjadi penguasa atas kerajaan sorga  sebagaimana tertulis dalam firman Tuhan (ayat 5 – 8 ). (3)   Apakah Kristus akan memilih menjadi Mesias seperti harapan umat saat itu yang menginginkan terbebas dari penindasan dan penjajahan bangsa Roma, ataukan memilih menjadi Mesias yang ”luar biasa” , ”sensasional”, yang ”tidak bisa dibandingkan” dengan siapapun yang ada didunia mengikuti jalan yang telah ditentukan Tuhan ( ayat 9 – 11 )
  3. Dari keseluruhan pencobaan tersebut, kita mengetahui bahwa iblis ternyata tidak berhasil menjatuhkan Tuhan Yesus. Dengan kata lain, Yesus memenangkan percobaan. Namun demikian dalam ayat 13 dinyatakan bahwa iblis mengakhiri pencobaan kepada Tuhan Yesus, iblis mundur dan menunggu waktu yang baik. Ini berarti hingga sekarang ini iblis terus bekerja untuk mencobai orang-orang percaya agar iman orang percaya jatuh, tunduk dan menyembah kepada iblis.
  4. Untuk memberi bekal bagaimana kita bisa mengalahkan pencobaan iblis maka bisa belajar dari Lukas 4 : 1 – 13 yakni memahami bagaimana cara dan isi (karakter) pencobaan iblis dan bagaimana cara Tuhan Yesus mengalahkan pencobaan iblis. Ibarat seorang petinju untuk memenangkan pertandingan maka ia selain harus rajin berlatih dan memiliki strategi bertinju yang baik maka dia juga harus mengetahui strategi dan kelemahan lawan.
  5. Iblis mencobai Kristus ketika Kristus lapar ( ayat 3-4). (1)Lapar secara bilogis adalah kondisi perut yang tidak ada makanan didalamnya. Lapar mengakibatkan badan lemah dan tidak bertenaga. Badan lemah dan tidak bertenaga mudah terserang penyakit. Ketika orang sakit karena kelaparan dan jika tetap tidak diberi makan akibatnya bisa meninggal. Oleh karena itu, makan adalah jalan yang pertama dan utama. Makan adalah jalan yang masuk akal untuk mengatasi lapar sebelum lapar menimbulkan berbagai masalah lain dalam tubuh. Iblis menggunakan kelaparan fisik Kristus dalam pencobaanya. Iblis menggunakan jalan yang masuk akal untuk mengatasi kelaparan. Iblis menganjurkan kepada Yesus supaya makan roti yang berasal dari mukjizat Tuhan. (2)Mengapa Yesus tidak mengikuti perintah iblis ? Mengapa Tuhan Yesus tidak  mengubah batu menjadi roti. Justru Tuhan Yesus menyatakan ”ada tertulis : manusia hidup bukan  dari roti saja”. Ini berarti, Yesus melawan pencobaan iblis dengan mengutip atau menggunakan firman Tuhan yakni Ulangan 8:3. Ini berarti Yesus menyatakan bahwa lebih dari segala yang lain Yesus menggantungkan hidupnya kepada firman Tuhan. Yesus menyatakan bahwa segala hal yang penting dalam kehidupan tergantung kepada Allah dan kehendakNya. (3)Roti akan membuat kenyang, kuat, sehat, dan bertenaga. Dengan kondisi tubuh seperti itu maka kita dapat memburu dan meraih kekayaan, kesenangan, kesuksesan, dan hal-hal duniawi lainnya. Hidup dari roti saja adalah hidup yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dan  hidup yang lebih banyak dipergunakan untuk mengejar kebutuhan duniawi. Hidup dari roti saja adalah hidup yang sibuk dengan perkara-perkara duniawai, hidup yang jauh dari Tuhan. Dengan demikian orang yang hidup dari roti saja mudah terjerumus atau jatuh dalam pencobaan iblis. (4)Manusia hidup bukan dari roti saja. Ini berarti bahwa roti belum mencukupi untuk kehidupan. Roti hanyalah sebagian kecil dari hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Roti hanya sekedar pelengkap. Ini berarti kekayaan, kesenangan, kesuksesan, dan hal-hal duniawi lainnya bukanlah yang utama dalam kehidupan. Yang lebih utama dari segala hal adalah mengenyangkan diri dengan firman Tuhan. Matius 5 : 6 menyatakan ” Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan  ” . Syarat dasar sebagaimana dikehendaki Tuhan untuk semua orang percaya adalah ”lapar dan haus akan kebenaran firman Tuhan”. Musa, Pemazmur Daud, Rasul Paulus dan banyak tokoh-tokoh Alkitab telah memberi contoh kehidupan yang senantiasa lapar dan haus akan firman Tuhan. Kondisi rohani orang percaya seumur hidupnya harus senantiasa lapar dan haus atas kehadiran Allah dan Firman-Nya. Orang percaya harus selalu lapar dan haus untuk bersekutu dengan Roh Kudus. Lapar dan haus atas kebenaran. Orang percaya harus selalu lapar dan haus atas kuasa kerajaan Allah dan kedatangan Tuhan Yesus kembali.. Menurut Matius 6 : 33, orang yang selalu lapar dan haus akan kebenaran firman Tuhan berarti orang yang lebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenarannya. Orang percaya yang lebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenarannya maka segala sesuatu yang dibutuhkan telah disediakan Allah. Kekayaan, kesenangan, kesuksesan, dan hal-hal duniawi lainnya akan menyertai atau secara otomatis akan kita nikmati apabila kita selalu mengenyangkan diri dengan firman Tuhan. Kekayaan, kesenangan, kesuksesan, dan hal-hal duniawi lainnya yang kita peroleh dari Tuhan tidak sama dengan yang diperoleh dari iblis. Segala sesuatu yang dari Tuhan pasti membawa kehidupan kita dipenuhi dengan buah-buah Roh Kudus (Galatia 5 : 22 – 26). Oleh karena itu, ketika saat ini kita sedang memburu dan meraih kekayaan, kesenangan, kesuksesan, dan hal-hal duniawi lainnya maka marilah kita menempatkan hal itu dibawah kendali firman Tuhan.
  6. Iblis mencobai Kristus dengan memperlihatkan kerajaan dunia dengan segala kemegahannya (ayat 5 – 8) (1)Iblis mencobai Yesus dengan menawarkan kepada Yesus kekuasaan atas segala kerajaan yang ada didunia. Semua kerajaan dunia dan kemegahannya akan diberikan oleh iblis apabila Yesus menyembah iblis. Namun saran dan perintah iblis ditolak oleh Yesus. Justru Tuhan Yesus menyatakan ”ada tertulis : Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti”. Ini berarti, Yesus melawan pencobaan iblis dengan mengutip atau menggunakan firman Tuhan yakni Ulangan 6:13. (2)  Mengapa Yesus tidak mengikuti perintah iblis ? Mengapa Tuhan Yesus tidak  mau menyembah iblis. Mengapa Yesus menolak kemegahan kerajaan duniawi ?. Hal ini karena, pertama ” Kerajaan Yesus bukan berasal dari dunia ini ” (Yohanes 18 : 36 – 37). Kedua, Yesus menolak mencari kerajaan bagi kepentingan diri sendiri karena bila Ia mencari kerajaan bagi kepentingan diri sendiri tentunya Yesus tidak akan diserahkan kepada orang Yahudi dan  tidak akan disalib karena semua pengikutNya akan melawan dan membebaskan diriNya (Yohanes 18 : 36 – 37). Yesus menolak mencari kerajaan bagi kepentingan diri sendiri karena Yesus ingin kerajaanNya yang bukan dari dunia ini dapat menyelamatkan semua  manusia dari kuasa maut akibat dosa. Ketiga, Yesus menolak berkompromi dengan cara-cara duniawi, Yesus menolak berkompromi dengan bujuk rayu iblis, Yesus menolak berkompromi dengan muslihat politik, kekerasan, popularitas, penghormatan, dan menolak berkompromi dengan kemuliaan dari dunia ini. (3) Kerajaan Tuhan Yesus adalah kerajaan rohani yang memerintah didalam hati umatNya. Umat Tuhan yang tunduk kepada pemerintahan Kerajaan Kristus telah dipisahkan oleh Kristus dari kerajaan dunia. Sebagai suatu kerajaan sorgawi maka setiap umat Tuhan dapat memperoleh dengan cara (a). Tetap setia ditengah penderitaan, tahan uji, penyangkalan diri, kerendahan hati, dan kelemah lembutan. (b). Menyerahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Roma 12:1) dalam pengabdian dan ketaatan penuh kepada Allah. (c). Berjuang dengan senjata rohani melawan dosa, pencobaan, dan iblis (Efesus 6 : 10-20). (d). Menolak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2).  (4)Yesus menolak dengan firman yang menyatakan Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti”. Menyembah dan berbakti kepada Tuhan adalah memandang Tuhan dengan kekaguman dan penghormatan kudus serta menghormati-Nya sebagai Allah karena kemuliaan, kekudusan, keagungan, dan kuasa-Nya yang besar. Menyembah dan berbakti kepada Tuhan  adalah menaruh iman dan kepercayaan untuk beroleh selamat hanya kepada-Nya.  Menyembah dan berbakti kepada Tuhan adalah kesadaran bahwa Allah marah terhadap dosa dan berkuasa menghukum mereka yang melanggar hukum-hukum Tuhan. Yohanes 4 : 23-24 menyatakan bahwa kita harus menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Ini berarti kita menyembah dan berbakti kepada Tuhan adalah menghampiri Allah dengan hati yang sungguh-sungguh dan menghampiri Allah dengan roh kita (yakni pikiran dan jiwa kita)  diarahkan oleh tindakan dan kehidupan Roh Kudus. Menyembah dan berbakti kepada Allah harus dilaksanakan menurut kebenaran Bapa yang dinyatakan dalam Yesus Kristus dan diterima melalui Roh Kudus. Sebaliknya menyembah iblis adalah penyembahan yang terlepas dari kebenaran dan ajaran firman Tuhan. Menyembah iblis adalah mengagungkan kuasa iblis. Menyembah iblis berarti tunduk dan taat kepada iblis. Menyembah iblis adalah memohon dan berharap memperoleh  keberhasilan dan keselamatan dari iblis.
  7. Pencobaan iblis ketiga menurut Lukas 4 : 9 – 12, Iblis mencobai Yesus dengan cara membawa-Nya di Yerussalem (Kota Suci) dan menempatkan-Nya di bubungan Bait Allah, kemudian iblis mengutip firman Tuhan dalam Mazmur 91 : 11-12 yaitu ” Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau diatas tangannya supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu ” ( Lukas 4 : 10-11 ).

 7.1. Pencobaan iblis pertama menggunakan pendekatan fisik yakni dengan menyerang kelemahan fisik melalui lapar. Pencobaan iblis kedua menggunakan pendekatan psikologis dimana Yesus ditawari kekuasaan atas kerajaan dunia apabila mau menyembah iblis. Pencobaan iblis ketiga mengggunakan pendekatan rohani karena iblis memakai Bait Allah sebagai tempat pencobaan, dan iblis mengutip firman Tuhan Mazmur 91 : 11 – 12 sebagai senjata untuk menjatuhkan Tuhan Yesus.

7.2.  Bait Allah ternyata bukanlah tempat yang terbebas dari pencobaan. Bait Allah sebagai tempat untuk memuji dan menyembah Tuhan, dan tempat bersekutunya jemaat Tuhan ternyata dapat dikotori bahkan diacak-diacak oleh iblis. Iblis dapat mencobai umat percaya ketika umat percaya berada dalam persekutuan bahkan ditengah peribadahan. Dalam persekutuan seringkali ada jemaat Tuhan yang jatuh kedalam pencobaan iblis. Jemaat yang jatuh dalam pencobaan ditengah persekutuan adalah jemaat yang tidak pernah lapar dan haus akan firman Tuhan, tetapi jemaat tersebut  lebih suka meninggalkan peribadatan, lebih memburu popularitas, sekedar  menyalurkan hobi, yang penting happy, mengisi waktu luang, dan hal-hal lain bagi kepentingan diri sendiri di tempat persekutuan. Dalam peribadahan, iblis mencobai dengan mengganggu konsentrasi pikiran supaya tidak terfokus pada ibadah atau iblis mengacaukan hati dan perasaan kita supaya kita menolak pemberitaan firman. Oleh karena itu, dalam setiap persekutuan dan peribadahan di Bait Allah maka dalam nama Tuhan Yesus kita usir kuasa iblis yang mengganggu jalanya persekutuan dan peribadahan. Kita membuka dan memusatkan hati, pikiran, dan iman kita hanya untuk firman Tuhan.

7.3.  Iblis menggunakan firman Tuhan ketika mencobai Yesus. Apakah ini berarti iblis mengakui kekuasaan Tuhan Allah ? ternyata tidak. Meski iblis menggunakan dasar Kitab Suci bukan berarti iblis mengakui kekuasaan Allah. Justru iblis menggunakan untuk mencobai Tuhan Yesus. Adakalanya orang duniawi akan mempergunakan ayat Alkitab untuk menghina atau merayu orang percaya agar melakukan sesuatu yang mereka ketahui salah, tidak bijaksana, atau berdosa. Beberapa ayat Alkitab jika tidak ditafsirkan sesuai dengan konteks firman Tuhan mungkin tampaknya mengijinkan orang percaya untuk berbuat dosa, misalnya I Korintus 6 : 12 ” atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia ” – sepertinya orang percaya diijinkan untuk merusak, menghancurkan, bahkan membunuh segala yang berdosa di dunia ini, padahal bukan seperti itu maksudnya. Contoh lain, misalnya Matius 10 : 35 – 36 Sebab Aku (Tuhan Yesus) datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, memisahkan menantu perempuan dari mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya ”. Untuk itu, orang percaya harus benar-benar memahami firman Tuhan dan waspada terhadap mereka yang memutar balikkan Alkitab untuk memenuhi keinginannya yang berdosa. Dalam 2 Petrus 3 : 16, Rasul Petrus berbicara tentang orang-orang yang memutarbalikkan firman Tuhan sehingga membinasakan dirinya sendiri. 2 Petrus 3 : 16 dalam surat-surat Paulus ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang mereka buat dengan tulisan-tulisan lain ”.

7.4. Yesus tidak mengikuti perintah iblis. Yesus tidak menjatuhkan diriNya dari bubungan Bait Allah. Tetapi Yesus menjawab dengan menyatakan ” Ada firman : Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu ”. Ini berarti, Yesus melawan pencobaan iblis dengan mengutip atau menggunakan firman Tuhan yakni Ulangan 6:16.

7.5.  Dengan kata lain, jika Yesus mengikuti perintah iblis untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah berarti Yesus telah mencobai Tuhan. Mencobai Tuhan adalah menjadikan Tuhan sebagai kelinci percobaan atas keinginan kita. Mencobai Tuhan menjadikan Tuhan sebagai objek sehingga menempatkan Tuhan dalam kedudukan yang lebih rendah sementara kita memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Orang yang mencobai Tuhan adalah orang yang masih meragukan kemahakuasaan Tuhan. Orang yang mencobai Tuhan adalah orang mengatur Tuhan sesuai dengan kepentinganya. Contoh mencobai Tuhan adalah meletakkan kendaraan sembarang tanpa dikunci karena Tuhan berjanji akan menjaga segala sesuatu yang dimiliki orang percaya.

7.6. Orang beriman tidak boleh mencobai Tuhan. Orang beriman tidak boleh menyepelekan kemahakuasaan Tuhan. Orang beriman tidak boleh menantang atau melawan kekuasaan Tuhan.

8.  Dari keseluruhan pencobaan tersebut, kita mengetahui bahwa iblis ternyata tidak berhasil menjatuhkan Tuhan Yesus. Dengan kata lain, Yesus memenangkan percobaan. Namun demikian dalam ayat 13 dinyatakan bahwa iblis mengakhiri pencobaan, iblis mundur  dan menunggu waktu yang baik. Ini berarti hingga sekarang ini iblis terus bekerja untuk mencobai orang-orang percaya. Iblis akan mencobai kita (1). Ketika fisik kita lemah. Fisik lemah tidak hanya akibat lapar, tetapi fisik lemah dapat terjadi ketika kita sedang sakit, sedih, kecewa, putus asa, tidak segera mendapat pekerjaan, tidak segera mendapat pasangan hidup, dan sebagainya. (2). Ketika psikis kita lemah,. Khususnya ketika kita secara materiil kuat, misalnya berhasil dalam bekerja, memiliki harta melimpah, kaya raya, hidup mapan, memiliki jabatan bergengsi, gaji besar, dan sebagainya. (3) Iblis mencobai ketika iman dan persekutuan kita  lemah. Sebagaimana Tuhan Yesus yang menang melawan pencobaan dengan menggunakan Firman Tuhan, maka kita  juga harus menggunakan firman Tuhan. Menggunakan firman Tuhan untuk melawan iblis berarti kita mengakui bahwa Tuhan Allah lebih berkuasa daripada yang lain sehingga kita senantiasa mengandalkan Tuhan.  Kita harus mengakui bahwa Tuhan Allah kita adalah adalah Tuhan yang hebat, Allah yang luar biasa yang tidak ada bandingnya, dan Allah kita adalah Allah pemenang. Roma 10 : 9 – 13 menyatakan bahwa pengakuan itu harus kita ungkapkan dari mulut kita. Isi Pengakuan kita adalah bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Menurut Ibrani 4 : 14 – 15 (sebagai introitus) maka kita harus  teguh berpegang pada pengakuan kita. Dengan pengakuan itu kita akan senantiasa taat dan tidak mudah tersesat pada berbagai macam cobaan atau godaan iblis, dan dapat senantiasa menyandarkan diri kepada Tuhan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menang melawan iblis. Amin.

MENJADI SATU

Oleh : Kristyan Dwijosusilo

Bacaan  I  Kisah Rasul 7 : 55 – 60 ; Bacaan  II Wahyu 22 : 12 – 20 ; Bacaan Utama Yohanes 17 : 20 – 26

Introitus Efesus 4 : 3-5 . . . Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang ada diatas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

A. Latar Belakang

  1. Secara keseluruhan Yohanes 17 : 1 – 26 berisi tentang doa-doa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Doa-doa ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, ayat 1 – 5,Tuhan Yesus berdoa untuk diriNya sendiri. Bagian kedua, ayat 6 – 19 Tuhan Yesus berdoa untuk murid-muridNya, dan bagian ketiga ayat 20 – 26, Tuhan Yesus berdoa untuk semua orang percaya termasuk kita. Ini adalah doa Tuhan Yesus mendekati akhir pelayananNya di bumi sebelum Ia ditangkap dan disalibkan.
  2. Doa ini merupakan jaminan bagi kita, karena jika kita percaya kepada Kristus melalui pemberitaan Injil, maka kita dikumpulkan bersama dengan rasul-rasul ke dalam perlindunganNya yang setia, sehingga tidak seorangpun dari kita yang akan binasa. Doa untuk pemeliharaan / perlindungan terhadap para rasul di atas (ay 11,15), juga berlaku untuk orang-orang  percaya oleh pemberitaan para rasul tersebut.
  3. Mengapa Tuhan Yesus mendoakan murid-muridNya dan orang-orang percaya ?
    1. Tuhan Yesus tidak melarikan diri dari penderitaan yang akan diterimaNya. Tuhan Yesus siap menghadapi penderitaan, siksaan, penyaliban, dan kematian. Tuhan Yesus menyerahkan semua itu kedalam kehendak Bapa.
    2. Ini berarti ditengah tekanan batin dan penderitaan yang akan dialami, Tuhan Yesus masih menunjukkan kasih dan perhatianNya kepada para murid dan orang-orang percaya.  Sekalipun Tuhan Yesus menghadapi saat-saat yang buruk, Tuhan Yesus tetap percaya bahwa akan ada banyak orang yang percaya karena pemberitaan firman Tuhan dari para rasul dan orang-orang percaya.
    3. Namun demikian, Dia juga mengetahui betapa sulitnya hidup di dunia ini. Pemberitaan firman Tuhan akan mengalami banyak tantangan. Tuhan merasakan para murid dan orang-orang percaya akan mengalami banyak hambatan, penderitaan, dan siksaan dalam pemberitaan firman, sama seperti yang telah dialami Tuhan Yesus.
  4. Untuk itu Tuhan berdoa bagi para murid dan orang-orang percaya untuk lima hal yaitu

2.1. Supaya umatNya terpelihara dalam persekutuan.
“peliharalah mereka dalam namaMu……supaya mereka satu sama seperti Kita” (ay 11b). KehendakNya adalah persatuan dalam keakraban seperti Bapa dan Anak bersatu dan tidak dapat dipisahkan. Rasul Paulus menyatakan bahwa umat Tuhan bersatu bagaikan satu tubuh, “….walaupun banyak adalah satu tubuh dalam Kristus” (Rom 12: 5). Meski banyak tantangan dan kesakitan sebagai anggota tubuh Kristus, umat Tuhan tidak boleh terpisah dari Kristus.

2.2. Supaya umatNya dilindungi dari yang jahat.
“Supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (ay 15). Umat Tuhan akan berhadapan dengan iblis selama di dunia ini.Tuhan Yesus menggambarkan seperti “domba ketengah-tengah serigala” (Mat 10:16) dan yang akan terjadi “serigala itu menerkam dan mencerai beraikan domba-domba itu” (Yoh 10:12).

2.3. Supaya umatNya dikuduskan dalam kebenaran.
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran” (ay 17). Rasul Yakobus menyatakan firman itu “berkuasa menyelamatkan jiwamu” (Yak 1:21). Jiwa yang berontak harus ditenangkan dengan kuasa Firman Tuhan sehingga kita tidak menyimpang dari kehendakNya dan melakukan perbuatan dosa yang akan menjadi penghalang hubungan kita dengan Tuhan. (baca Yes 59: 1-2 & Ib 12:14).

2.4. Supaya umatNya menjadi bagian dalam misi Kristus.
“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ……demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (ay 18). Kita dinyatakan telah diutus untuk menyampaikan kebenaran. Untuk itu sangat penting bagi kita  untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi teladan. Kehendak Tuhan agar kita bekerja di ladangNya untuk memenangkan jiwa. Rasul Paulus menyatakan “giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58). Ada berkat dan ada pahala dan ada pula mahkota yang telah disiapkan Bapa untuk kita sebagai umat pemenang.

2.5. Supaya semua orang percaya menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, didalam Aku dan Aku didalam Engkau (ay 21).

Apa yang terjadi pada saat  dan/ setelah Tuhan Yesus menderita diadili, disiksa, disalib, dan mati. Ternyata para murid dan orang-orang percaya kembali pada kehidupan sebagai manusia biasa, tidak ada tanda-tandanya lagi sebagai murid atau orang percaya kepada Tuhan. Persekutuan mereka dengan Tuhan tidak tampak dan iman mereka lenyap. Dalam kondisi demikian, tentunya para murid dan orang-orang percaya akan mudah diterkam dan dicerai-beraikan iblis. Jika hal ini dibiarkan maka  tidak ada lagi para murid dan orang-orang percaya yang akan melanjutkan pemberitaan firman Tuhan. Pemberitaan firman Tuhan berhenti, dan  pada hari raya panen (Pentakosta)  barangkali akan menjadi hari-hari biasa dimana Roh Kudus tidak turun.

Oleh karena itu, setelah kebangkitan dari kematian, Tuhan Yesus menemui para murid untuk memulihkan imannya, menguatkan hati dan pikirannya, dan mengingatkan kembali tugas, peran, dan tanggung jawab mereka selaku umat pilihan Allah yang harus memberitakan kabar sukacita kepada semua orang. Dengan menemui mereka, berarti Tuhan Yesus tidak menginginkan para murid tercerai berai. Tuhan menginginkan mereka semua tetap menjadi satu. Tuhan mau menunjukkan bahwa diriNya dengan para murid dan orang-orang percaya tidak terpisahkan. Tuhan ingin selalu bersama-sama. Hanya keadaanya yang berbeda dari sebelum kematianNya. Jika semasa Yesus hidup, wujud kebersamaan mereka nampak secara fisik sebab Yesus selalu bersama-sama. Tetapi setelah kematianNya, wujud kesatuan atau kebersamaan itu adalah kesatuan secara rohani.

B. Makna Kesatuan dalam doa Tuhan Yesus

  1. Kesatuan yang didoakan Tuhan Yesus adalah kesatuan rohani yang berlandaskan hidup didalam Kristus (ay 23); hidup dan mengalami kasih Bapa dan persekutuan Kristus (ay 26); hidup yang terpisah dari dosa dunia (ay 14-16); hidup yang kudus dalam kebenaran (ay 17,19); hidup yang menerima dan mempercayai kebenaran Firman Allah (ay 6,8,17); hidup yang taat kepada firman Tuhan (ay 7); dan berlandaskan hidup yang memiliki keinginan untuk membawa keselamatan kepada orang yang hilang (ay 21, 23).
  2. Kesatuan yang didoakan Tuhan Yesus adalah kesatuan Roh yang tidak mungkin diciptakan manusia. Kesatuan Roh tersebut sudah tersedia bagi mereka yang mempercayai kebenaran dan menerima Kristus sebagaimana diberitakan para rasul
  3. Kesatuan yang didoakan Tuhan Yesus bukan kesatuan pemerintahan atau organisasi; itu sama sekali bukan kesatuan gereja. Orang-orang kristen tidak akan pernah mengorganisir gereja-gereja mereka dengan cara yang sama. Mereka tidak akan pernah  beribadah dengan cara  (liturgi) yang sama kepada Allah. Bahkan mereka tidak akan pernah mempercayai hal-hal yang persis sama. Tetapi kesatuan Roh melampaui semua perbedaan-perbedaan ini dan menggabungkan orang-orang beriman dalam kasih. Kesatuan Roh pada saat ini, dan bahkan dalam sepanjang sejarah, telah dilukai dan dihalangi, karena manusia mengasihi organisasi gereja mereka sendiri, pengakuan iman mereka sendiri, upacara mereka sendiri, lebih dari pada mereka mengasihi satu sama lain. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi satu sama lain dan sungguh-sungguh mengasihi Kristus, tidak ada gereja yang akan mengeluarkan siapapun yang adalah murid Kristus. Hanya kasih yang ditanamkan dalam hati manusia oleh Allah bisa merobohkan penghalang-penghalang yang telah mereka dirikan di antara mereka dan di antara gereja-gereja mereka.
  4. Kesatuan yang didoakan Tuhan Yesus adalah kesatuan dimana orang-orang kristen semuanya ditebus dengan darah yang sama. Mereka akan menerima upah atas segala apa yang dilakukan pada waktu penghakiman Allah, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Mereka akan menerima pohon kehidupan yang sama dan masuk melalui pintu-pintu gerbang yang sama (sorga yang sama), atau tinggal diluar sorga yang sama (Wahyu 22:12-20). Mereka mempunyai kebutuhan yang sama, musuh yang sama, sukacita yang sama. Sekalipun mereka terbagi dalam denominasi-denominasi yang berbeda, tetapi akhirnya mereka akan bertemu  di tempat tinggal kemuliaan yang sama. Karena itu mereka harus merasa bahwa mereka termasuk dalam keluarga yang sama, dan adalah anak-anak dari Allah dan Bapa yang sama.
  5. Kesatuan yang didoakan Tuhan Yesus menunjuk pada tindakan yang berkesinambungan, yakni terus menerus bersatu dipelihara dan diwujudnyatakan oleh semua orang percaya dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun.  Kesatuan berlandaskan kesamaan hubungan kepada Bapa dan Anak, dan karenanya memiliki sikap yang sama terhadap dunia, firman Tuhan, dan perluanya menjangkau mereka yang hilang.
  6. Kesatuan yang didoakan Tuhan Yesus adalah kesatuan yang bergerak, bukan kesatuan yang ”berhenti / diam ditempat”. Kesatuan rohani terjadi supaya dunia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa dan menyelamatkan manusia (ay 21). Kesatuan rohani ini didalamnya mengandung tugas dan tanggung jawab untuk memberitakan firman Tuhan dan menjangkau kembali domba-domba yang hilang. Kesatuan rohani ini peduli terhadap kekurangan dan penderitaan sesama manusia. Kesatuan rohani ini tidak mementingkan diri sendiri.

 C. Stefanus adalah salah satu contoh (Kisah Rasul 7:55-60).

  1. Jika kita membaca secara lengkap kemunculan Stefanus sampai kematiannya yang dimulai pasal 6 sampai dengan pasal 8: 1a, kita akan menjumpai persamaan perjalan Stefanus dengan perjalan hidup Yesus. Pertama, seperti Yesus, Stefanus dipenuhi Roh Kudus mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya (Kis 6:10). Kedua, mirip Yesus, Stefanus ditangkap dengan hasutan dan tuduhan palsu karena orang-orang yang berdialog dengan mereka kalah berdebat (Kis 6:11-12). Ketiga, Stefanus juga dihadapkan kepada Mahkamah Agama dengan tuduhan palsu (Kis 6:13). Keempat. Stefanus juga menerima hukuman dengan ikhlas sebagai konsekuensi dari kesaksiannya. Bahkan seperti Yesus, Stefanus mendoakan orang-orang yang menghukumnya (Kis 7:60).
  2. Melalui contoh kehidupan Stefanus maka kita dapat mengetahui bahwa kesatuan sebagaimana yang didoakan Tuhan Yesus dapat terwujud dalam diri orang-orang percaya meskipun banyak tantangan dan penderitaan yang harus dihadapi. Sama seperti Stefanus yang telah memperoleh hak atas pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang kota kerajaan sorga, maka hal sama juga akan diberikan kepada kita yang telah mengambil keputusan, memelihara, dan mewujudnyakan kesatuan rohani seperti yang didoakan Tuhan Yesus.

D. Aplikasi / Penerapan

  1. Doa Tuhan Yesus masih berlaku hingga saat ini. Tuhan Yesus menginginkan kita selalu bersatu dalam kesatuan rohani. Tuhan Yesus yang datang kepada para murid setelah bangkit, juga akan datang kepada kita sekarang ini untuk memulihkan iman kita, menguatkan hati dan pikiran kita, dan mengingatkan kembali tugas, peran, dan tanggung jawab kita selaku umat pilihan. Penderitaan, hambatan, dan  tantangan yang  kita alami dalam pemberitaan injil sekarang ini, berbeda dengan apa yang dialami oleh Stefanus atau para rasul lain. Tantangan kita sekarang ini adalah kemajuan tehnologi dan globalisasi yang semakin memberi sedikit ruang iman dihati banyak manusia. Kemajuan tehnologi dan globalisasi menghanyutkan banyak manusia kedalam hidup yang materialistik, serba duniawi, dan rasional instan. Namun bisa saja ditengah kemajuan tehnologi dan globalisasi, apa dialami oleh Stefanus, juga dapat terjadi pada kita sekarang ini dalam wujud ketidakadilan, hasutan, tuduhan palsu, adu domba, kesewenang-wenangan, korupsi, dan sebagainya. Oleh karena itu, sama seperti jemaat Efesus (Efesus 4: 3-5), kita juga dituntut untuk memelihara kesatuan Roh, bukan dengan usaha atau pengaturan manusia, tetapi dengan hidup berpadanan dengan panggilan Tuhan. Kesatuan rohani ini, kita pelihara dengan  tetap setia kepada kebenaran dan berjalan seiring dengan Roh Tuhan.
  2. Kesatuan rohani ini hidup dan bergerak. Berdasarkan kesatuan rohani ini, kita didorong untuk mengasihi satu sama lain, untuk saling menanggung beban,  untuk belajar dan menyatakan segala hal yang mendatangkan damai,  saling membangun, dan mendidik. Apakah saudara berdoa untuk kesatuan rohani didalam gereja saudara ? Apakah ada orang dalam gereja ini yang merasa sentimen, tidak senang, iri hati, curigai, berprasangka buruk, dsb kepada anda ? Kalau ada, apakah saudara berdoa dan berusaha supaya saudara bisa bersatu dan saling mengasihi dengan orang itu?.
  3. Berdasarkan kesatuan rohani ini, kita dituntut untuk tidak saling curiga atau saling menghakimi atas perbedaan-perbedaan yang ada, sebaliknya kita harus menghargai perbedaan yang ada diantara gereja-gereja di dunia dan bersama-sama memusatkan diri pada kesamaan selaku orang yang telah ditebus oleh darah Yesus. Bersama-sama memikul beban dan tugas untuk menyebarkan firman Tuhan dan menjadi saluran berkat Tuhan kepada sesama yang membutuhkan. Dengan kesatuan rohani ini, maka sudah saatnya gereja-gereja Tuhan didunia ini saling mendoakan, saling menopang, saling mendukung, dan saling membantu satu sama lain untuk turut serta mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kedamaian masyarakat, bangsa dan negara.
  4. Demikian juga, dalam kehidupan keluarga / jemaat, pasti ada perbedaan pemahaman firman Tuhan. Bahkan dalam keluarga ada orang tua yang GKJW tetapi anak-anaknya non-GKJW. Atau sama-sama GKJW tetapi orang tua lebih suka ibadah jawa tetapi anak-anaknya lebih suka ibadah pemuda memakai band. Kesatuan rohani ini, mendorong kita untuk saling menghargai perbedaan diantara anggota jemaat dan keluarga. Marilah kita bersama-sama bersatu untuk meningkatkan pelayanan keluarga dan gereja ditengah kehidupan bermasyarakat. Amin

MENGASIHI TUHAN DAN MENGASIHI SESAMA MANUSIA

Oleh : Kristyan Dwijosusilo

Bacaan             : Markus 12 : 28 – 34

Introitus            : 1 Yohanes 4 : 20 – 21

 ” Jikalau seorang berkata : ” Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya, Dan perintah ini kita terima dari Dia : ” Barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya ”

A.     LATAR BELAKANG AHLI TAURAT

  1. Ahli Taurat adalah tokoh masyarakat dan pejabat yang dipilih, merupakan satu-satunya golongan  yang telah memahami hukum Taurat secara menyeluruh. Hukum Taurat digunakan sebagai hukum yang mengatur kehidupan rohani orang Yahudi. Sebagai hukum rohani maka didalamnya mengandung perintah yang tegas, pasti, dan sah (legal) yang mengikat semua warga Yahudi. Sebagai hukum rohani, maka didalamnya terdapat hal-hal apa yang boleh, dan tidak boleh dilakukan, sanksi atau hukuman bagi siapapun yang melanggarnya, dan penghargaan bagi mereka yang mentaatinya. Hukum Taurat merupakan hukum tertinggi yang mengatur kehidupan rohani saat itu. Tidak ada ajaran lain yang bisa menggeser atau menggantikan hukum Taurat.
  2. Ahli Taurat  juga dipercaya untuk mampu menjaga kemurnian hukum Taurat. Ahli Taurat harus menjaga agar hukum Taurat tidak tercampur oleh ajaran-ajaran lain yang berbeda dengan hukum yang berlaku saat itu. Supaya hukum Taurat terjaga kemurniannya maka hukum Taurat harus dilaksanakan secara murni ( apa adanya sebagaimana teks yang ada ) dan secara konsekuen ( dengan penuh kepatuhan, tidak perlu memperdebatkan lagi ).
  3. Ahli Taurat  juga harus menjaga kelangsungan hukum Taurat. Hukum Taurat harus tetap berlaku dari generasi ke generasi. Supaya hukum Taurat tetap berlaku dari generasi ke generasi maka Ahli Taurat juga mengajarkan dan mensosialisasikan hukum Taurat kepada generasi muda saat itu. Peran ahli Taurat sebagai ”Transfer Knowledge” ( pengalih pengetahuan ) hukum Taurat kepada generasi penerus mengakibatkan dirinya menjadi sosok yang penting dan dihormati. Ahli Taurat menganggap dirinyalah yang layak dan pantas untuk bertanya tentang ajaran-ajaran yang dibawa Tuhan Yesus.
  4. Dibandingkan dengan orang-orang lain yang datang dan mendengar pengajaran Tuhan Yesus, maka hanya Ahli Taurat-lah yang merasa dirinya lebih kritis dan pandai. Namun demikian, kepandaian, kekritisan, dan keingintahuan atas pengajaran Tuhan Yesus didasarkan dengan kerangka berpikir Hukum Taurat. Namun demikian, oleh karena Ahli Taurat juga bersama-sama dengan orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki maka Ahli Taurat selain memiki kerangka berpikir menurut Hukum Taurat juga memiliki kerangka berpikir menurut adat istiadat Yahudi, norma sosial, etika moral yang sesuai dengan kondisi masyarakat Yahudi saat itu. Kerangka berpikir itu telah lama tertanam dalam pikiran, hati, sikap, dan perilaku Ahli Taurat. Karena terlalu kuatnya tertanam maka kerangka berpikir menjadi sebuah keyakinan yang sangat sulit untuk dirubah dan membuat Ahli Taurat menjadi sangat responsip, kritis, dan protektif terhadap hal-hal yang berbeda apalagi yang berlawanan.
  5. Dengan demikian, ketika ahli Taurat, orang-orang Farisi maupun Saduki bertanya kepada Tuhan Yesus tentang Kuasa Yesus (Markus 11 : 27 – 33), tentang membayar pajak kepada kaisar (Markus 12 : 13 – 17), tentang kebangkitan orang mati (Markus 12 : 18 – 27), dan terakhir bertanya tentang hukum yang terutama (Markus 12 : 28 – 34), didasarkan pada kerangka berpikir sebagai berikut :  (1)Ahli Taurat adalah orang yang bertanya bukan karena tidak tahu atau bodoh. (2)Ahli Taurat telah memiliki pola kehidupan atas dasar hukum Taurat, adat istiadat, norma, dan etika moralitas masyarakat saat itu.  (2)Ahli Taurat memandang orang-orang lain yang datang kepada Tuhan Yesus (selain dirinya) adalah orang yang memiliki ”pikiran kosong”. (3)Ahli Taurat berkeyakinan bahwa hukum Taurat, hukum adat, hukum etika-moral yang telah lama dipahami dan berlaku memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan tidak diragukan kebenarannya. (4)Ahli Taurat menganggap bahwa bertanya kepada Tuhan Yesus merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawabnya selaku tokoh masyarakat dan pejabat yang berwenang.

 B.     MAKSUD PERTANYAAN AHLI TAURAT

 Ketika bertanya ”Hukum manakah yang paling utama ?” maka atas dasar kerangka berpikir Ahli Taurat maka sesungguhnya pertanyaan tersebut apabila dioperasionalkan bisa dinyatakan ”Dari ketiga hukum yang ada yakni hukum Taurat, hukum adat, dan hukum etika-moral, manakah yang paling berguna bagi kehidupan manusia ?”. Dengan pertanyaan ”Hukum manakah yang paling utama ?”, tentunya Ahli Taurat menginginkan agar Tuhan Yesus memilih salah satu diantanya. Apabila Tuhan Yesus memilih salah satu ( misal yang paling utama adalah hukum Taurat, atau hukum adat, atau hukum etika-moral ) sebenarnya sudah merupakan jawaban yang benar menurut Ahli Taurat. Apalagi jika menjawab semua, maka kecerdasan Tuhan Yesus dianggap sama dengan kecerdasan Ahli Taurat. Namun bila Tuhan Yesus memilih salah satu jawaban sesuai dengan keinginan Ahli Taurat berarti menjadi kemenangan Ahli Taurat atas keinginan dan kehendak Tuhan. Jadi dibalik pertanyaan tersebut, Ahli Taurat ingin menguasai jalan pikiran dan kehendak Tuhan Yesus.

 C.     MAKNA JAWABAN TUHAN YESUS

  1. Jawaban Tuhan Yesus ”Hukum yang paling utama, ialah : Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua adalah kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (ayat 29 – 31). Dari jawaban ini maka menurut Tuhan Yesus
    1. Hukum yang paling utama adalah hukum kasih yakni pertama kasihilah Tuhan Allahmu, dan kedua adalah kasihilah sesamamu manusia.

Mengasihi Tuhan menuntut sikap hati yang sangat menghormati dan menghargai Allah sehingga kita sungguh-sungguh merindukan persekutuan dengan Tuhan. Kasih kepada Tuhan adalah berusaha untuk mentaati Tuhan diatas muka bumi, dan benar-benar memperdulikan kehormatan dan kehendak Tuhan di dunia. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Allah akan mengenal Tuhan, mengenal kuasa kebangkitanNya, bersekutu dengan Tuhan, dan mengambil bagian dalam penderitaanNya (Filipi 3 : 10). Mengasihi Tuhan adalah mengambil bagian dalam penyebaran kerajaan Tuhan di dunia ( I Korintus 9 : 23). Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Allah hidup bagi kemuliaan Allah dan hidup sesuai dengan standar Tuhan dibumi. Kasih kita kepada Allah haruslah kasih yang sepenuh hati dan yang  menguasai seluruh diri kita. Kasih kita kepada Allah adalah kasih yang dibangkitkan oleh kasih Tuhan yang menyebabkan Tuhan mengutus Anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia berdosa (Yohanes 3 : 16). Kasih kepada Tuhan adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan kudus (Roma 12 : 1 – 12), memuliakan Allah dengan tubuh kita ( I Korintus 6 : 20 ), melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan ( I Korintus 10 : 31), bersyukur atas karunia Tuhan ( 2 Korintus 9 : 15), tidak mendukakan Roh Allah ( Efesus 4 : 30), menjadi penurut Allah dan hidup dalam kasih ( Efesus 4 : 1 – 2 ), dan damai sejahtera serta  perkataan Kristus memerintah dan keluar dari hati kita ( Kolose 3 : 15 – 16).

Mengasihi sesama manusia. Orang beriman dituntut untuk mengasihi semua orang, dan terutama sesama orang beriman ( Galatia 6 : 10 atau 1 Tesalonika 3 : 12 ), kita juga harus mengasihi musuh-musuh kita ( Matius 5 : 44 ), dan juga mengasihi orang-orang Kristen yang telah lahir baru secara khusus ( Yohanes 13 : 34 ). Kasih kita kepada sesama, baik kepada sesama orang beriman, kepada orang-orang yang lahir baru, kepada semua orang, dan kepada musuh harus tunduk, diatur serta dikendalikan oleh kasih dan pengabdian kepada Allah. Kasih kepada Allah merupakan ”hukum yang yang terutama” (ayat 29). Oleh karena itu ketika menyatakan kasih kepada sesama manusia, kita tidak boleh berkompromi mengenai kekudusan Allah. Ketika mengasihi sesama manusia maka keinginan Tuhan, kehendak Tuhan, dan standar Tuhan sebagaimana terdapat dalam Alkitab tidak boleh dikompromikan dengan keinginan dan standar manusia. Sama seperti kasih yang diwujudkan oleh Tuhan Yesus maka kasih kita kepada sesama adalah memberi pengajaran yang baik dan benar atas dasar firman Tuhan. Memberi penghiburan dan kekuatan. Memberi bantuan materi. Bersedia mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kebaikan dan kebenaran,  berbuat kasih tanpa pamrih dan sebagainya

  1. Hukum Kasih adalah hukum yang berasal dari Tuhan. Tuhan yang esa juga berarti Tuhan Yesus. Hukum Kasih adalah karya Tuhan yang dinyatakan hanya oleh Tuhan Yesus. Ini berarti untuk bisa menerima, memahami, dan melaksanakan hukum kasih tersebut harus bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang esa, beriman kepada Tuhan Yesus, meneladani karya dan mewujudnyatakan karya Tuhan Yesus didunia. Dengan kata lain, hukum kasih menurut Tuhan Yesus bukanlah hukum yang berasal dari sejarah (nenek moyang), bukan pula dari  nabi-nabi terdahulu, dan juga bukan hukum adat atau etika buatan manusia.
  2. Hukum kasih menurut Tuhan Yesus adalah hukum yang paling menentukan kualitas hidup manusia dihadapan Tuhan. Apabila kualitas hidup manusia sudah benar dan baik menurut kehendak Tuhan maka kehidupan masyarakat dengan sendirinya akan berjalan aman, damai, adil, jujur, penuh kasih, tulus, rendah hati dan sebagainya. Apabila hukum kasih dipraktekkan maka kehidupan manusia yang terjadi adalah kehidupan sama dengan kehidupan ketika manusia belum jatuh kedalam dosa.
  3. Hukum Kasih menurut kehendak Tuhan Yesus adalah hukum yang berdasar pada latar belakang kehadiran Tuhan Yesus di dunia. Hukum kasih berdasarkan atas ” Karena demikian besarnya kasih Tuhan kepada semua manusia sehingga dikaruniakan AnakNya yang tunggal supaya barang siapa yang percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal ” ( Yohanes 3 : 16 ). Jadi hukum kasih merupakan hukum atas dasar kerangka berpikir bahwa Tuhan itu penuh kasih dan sudah lebih dahulu mengasihi manusia.
  4. Hukum kasih menurut Tuhan Yesus merupakan hukum yang memiliki kedudukan yang paling utama diantara semua hukum lain yang berlaku didunia. Hukum dari Tuhan Yesus adalah hukum paling utama karena hukum itu menjadi sumber hukum lain, menjadi fondasi atas hukum lain, dan menjadi dasar dari seluruh hukum-hukum yang lain.

D.    MAKNA RESPON AHLI TAURAT SETELAH MENDENGAR JAWABAN TUHAN YESUS

  1. Respon Ahli Taurat ”Tepat sekali, Guru, benar kata-kataMu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Markus 12 : 32 – 33 ) dapat memiliki makna sebagai berikut :
    1. Ahli Taurat membenarkan jawaban Tuhan Yesus. Ahli Taurat mendukung dan setuju dengan jawaban Tuhan Yesus. Namun pembenaran dan setujunya Ahli Taurat tetap berdasarkan pada kerangka berpikirnya sendiri. Ahli Taurat menyatakan bahwa Hukum Kasih menurut Tuhan Yesus jauh lebih utama dari korban bakaran dan korban sembelihan ( ayat 33 ). Korban bakaran dan korban sembelihan adalah ajaran para nabi perjanjian lama, yang dipercaya, dan kemudian menjadi tradisi penghapusan dosa manusia. Pembenaran Ahli Taurat merupakan bukti bahwa Ahli Taurat akan tetap memelihara tradisi korban bakaran dan korban sembelihan. Ahli Taurat tidak ingin tradisi korban bakaran dan korban sembelihan digantikan oleh pengorbanan Kristus. Ahli Taurat tidak bisa menerima bentuk kasih dan kuasa Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia dengan mati dikayu salib dan bangkit kembali di hari ketiga (lihat percakapan sebelumnya di Markus 12 : 18 – 27 dan Markus 11 : 27 – 33) ..
    2. Jika semula Ahli Taurat berpikir bahwa hukum yang terutama paling tidak salah satu atau tiga hal yakni Hukum Taurat, hukum adat, atau hukum etika-moral. Namun karena Tuhan menjawab Hukum Kasih, maka  Ahli Taurat mengalihkan kerangka berpikir kepada  korban bakaran dan korban sembelihan. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia menurut Ahli Taurat adalah melakukan  korban bakaran dan korban sembelihan. Dengan setiap hari membaca, merenungkan, mengajarkan, melestarikan, dan mempertahanan hukum Taurat, serta melakukan korban bakaran dan sembelihan maka Ahli Taurat berpikir bahwa ia telah mengasihi Tuhan dan sesama manusia.
    3. Respon itu ingin menujukkan bahwa Ahli Taurat sudah melakukan hukum kasih menurut hukum Taurat, hukum adat dan hukum etika-moral. Sedangkan hukum kasih menurut kehendak Tuhan Yesus hanya sekedar diakui bahwa hukum itu memang lebih utama. Namun demikian Ahli Taurat tidak bersedia menerima dan melaksanakan hukum kasih menurut kehendak Tuhan Yesus. Bagi Ahli Taurat menerima dan melaksanakan hukum kasih Tuhan Yesus merupakan kekalahan dan kebodohan. Dengan demikian, agar tidak tampak kalah dan bodoh maka Ahli Taurat mencampurkan hukum kasih Tuhan Yesus dengan hukum perjanjian lama, adat istiadat, dan etika-moral. Respon Ahli Taurat dapat dinyatakan dengan kalimat lain ”Hukum kasih Tuhan Yesus memang lebih utama daripada korban bakaran dan korban sembelihan, namun apabila hukum kasih Tuhan Yesus disatukan dengan korban bakaran dan korban sembelihan akan jauh lebih utama lagi ”.
    4. Respon itu adalah keinginan Ahli Taurat supaya tampak bijak dihadapan Tuhan Yesus. Setelah mendengar jawaban Tuhan Yesus, maka Ahli Taurat tidak lagi menunjukkan rasa ketersinggungannya, atau tidak lagi meninggalkan begitu saja, atau merespon dengan kata-kata emosional. Sebaliknya Ahli Taurat berusaha untuk mengkompromikan pengertiannya korban bakaran dan korban sembelihan dengan pengertian hukum kasih dari Tuhan Yesus. Maksudnya memahami hukum kasih dapat melalui perbandingan dengan korban bakaran dan korban sembelihan.
    5. Respon Ahli Taurat yang membenarkan jawaban Tuhan Yesus merupakan wujud simpati. Simpati adalah respon yang tampak dalam kata-kata. Ini berarti, pembenaran  Ahli Taurat atas jawaban Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ahli Taurat telah mengasihi Tuhan dan sesama manusia sebatas pada kata-kata. Kata-kata itu berasal dari pikiran Ahli Taurat. Secara tidak langsung Ahli Taurat ingin menunjukkan bahwa dalam pikiranya sudah terdapat pengetahuan tentang hukum kasih. Ahli Taurat mengetahui bahwa jawaban Tuhan tentang Kasihilah Tuhan Allahmu diambil dari Ulangan 6 : 5, sedangkan Kasihilah Sesamamu Manusia diambil dari Imamat 19 : 18. Dimana kitab Ulangan dan Imamat merupakan bagian dari kitab/ hukum Taurat. Dengan kata lain, Ahli Taurat sebenarnya hendak menyatakan bahwa ” Sebelum Tuhan Yesus berbicara, sebenarnya aku sudah tahu terlebih dahulu ”.

 E.     MAKNA PERNYATAAN TUHAN YESUS ”ENGKAU, TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH”

  1. Berdasarkan respon Ahli Taurat, selanjutnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ahli Taurat ”tidak jauh dari Kerajaan Allah” ( Markus 12 : 34 ). Kata lain ”tidak jauh” berarti ”dekat”. Makna ”dekat” berarti ”tidak bersinggungan”. Makna ”tidak bersinggungan” berarti ”masih ada jarak”. Dengan demikian, jika Kerajaan Allah kita umpakan keluarga yang mendiami sebuah rumah, maka orang yang tidak jauh dari Kerajaan Allah berarti orang itu tidak masuk didalam rumah dan tidak menjadi anggota keluarga pemiliki rumah itu, tetapi dia berada diluar rumah, bisa diluar pagar, dihalaman, dan sebagainya. Ahli Taurat tidak jauh dari Kerajaan Allah berarti Ahli Taurat belum  menjadi warga Kerajaan Allah. Orang yang dekat dengan Kerajaan Allah, tinggal beberapa langkah lagi maka ia akan menjadi warga kerajaan Allah. Dalam konteks Hukum Kasih, sama seperti Ahli Taurat maka orang percaya bisa dinyatakan ”tidak jauh dari Kerajaan Allah” apabila
    1. Mengasihi Tuhan dan sesama manusia menurut pengertian, pengetahuan, keinginan, dan kepentingannya sendiri.
    2. Melakukan hukum kasih dicampur dengan hukum-hukum lain misalnya hukum adat atau hukum etika-moral yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
    3. Mengasihi Tuhan tidak dengan segenap hati, tidak dengan segenap jiwa, dan tidak segenap akal budi. Dan mengasihi sesama manusia tidak seperti mengasihi dirinya sendiri. Jadi melaksanakan hukum kasih setengah hati atau tidak bersungguh-sungguh.
    4. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia hanya dengan kata-kata
    5. Mengasihi Tuhan tetapi tidak mengasihi sesama manusia.
    6. Mengasihi sesama manusia tetapi tidak mengasihi Tuhan
  2. Disisi lain, apabila jawaban Ahli Taurat tidak tampak bijaksana di mata Tuhan Yesus, bisa jadi Ahli Taurat dikatakan ”jauh dari Kerajaan Allah”. Dengan demikian, ada kemungkinan seseorang ”jauh dari Kerajaan Allah”. Dalam konteks hukum kasih maka orang yang jauh dari kerajaan Allah adalah orang yang sama sekali tidak mengasihi Tuhan dan tidak mengasihi sesama manusia. Mungkin ”mengasihi iblis dan mengasihi sesamanya yang juga iblis” atau ”iblis mengasihi iblis”.

Tuhan menginginkan umatnya menjadi warga Kerajaan Allah. Untuk itu Tuhan menghendaki agar kita mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Firman Tuhan dalam  1 Yohanes 4 : 20 -21 ” Jikalau seorang berkata : ” Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya, Dan perintah ini kita terima dari Dia : ” Barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya ”. Kasih kita kepada Allah harus dinyatakan juga dalam kasih kita kepada sesama manusia. Kasih Allah yang biasanya berujud ritual keagamaan dan kesalehan hidup harus memberi manfaat nyata kepada sesama manusia. Kasih Tuhan tidak hanya melalui sabda dan firman, tetapi kasih Tuhan juga dinyatakan dengan tindakan nyata kepada umatnya. Tuhan berfirman dan memberi berkat yang melimpah kepada umatnya.

F. RENUNGAN PENERAPAN

  1. Bapak Ibu yang terkasih, marilah kita melihat diri kita sendiri. Bagaimana pelaksanaan hukum kasih yang diajarkan Tuhan Yesus dalam diri kita ?
  2. Jika sekarang ini kita sama seperti Ahli Taurat yang berada ”tidak jauh dari Kerajaan Allah”  marilah kita memperbaiki diri dan mohon pimpinan Tuhan supaya hukum kasih Tuhan Yesus, kita laksanakan lebih sesuai dengan firman Tuhan.
  3. Apabila sekarang ini kita jauh dari Kerajaan Allah, marilah kita tunduk kepala mohon pengampunan dosa, dan bertobat, kemudian menjalankan Hukum Kasih Tuhan Yesus..
  4. Namun jika sekarang ini, kita telah melaksanakan Hukum Kasih seperti yang Tuhan kehendaki, maka marilah kita mengucap syukur, dan tetap memohon perlindungan agar Tuhan selalu menguatkan dan membimbing kita supaya kita tetap berada dijalan Tuhan.

 AMIN.

SIKAP HIDUP MELAYANI

Oleh : Kristyan Dwijosusilo

Bacaan ke-1 Kejadian 18 : 1 – 10a, Bacaan ke-2 Kolose 1 : 24 – 28, Bacaan ke-3Lukas 10 : 38 – 42; Introitus  Matius 20 : 28

Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

  1. Kita sering mengalami banyak pelayanan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pelayan di toko, di bank, di kampus, di kantor pemerintahan dan sebagainya. Setiap pegawai yang berada diposisi depan (front office) selalu menyapa dengan kalimat “apa yang bisa saya bantu”, “terimakasih”, “mohon maaf sebelumnya bila. . .” dan sebagainya. Atau sebaliknya, permohonan maaf apabila melakukan kesalahan dan kadangkala disertai dengan janji dan konsekuensi yang menyenangkan konsumen. Semua ini menunjukkan bahwa pelayanan penting. Dengan semakin membaiknya pelayanan maka pelanggan akan setia berbelanja, perusahaan semakin meningkat keuntungannya, kepercayaan meningkat, kepuasan konsumen atau stakeholder juga terasa, dan sebagainya.
  2. Sikap melayani ditunjukkan oleh Abraham  (Kejadian 18 : 1 – 10a). Abraham bersujud dihadapan 3 orang tamunya. Setelah itu, Abraham mengerahkan semua anggota keluarganya untuk menyiapkan hidangan terbaik bagi tamunya. Minuman, makanan, daging, dan keramahtamahan diberikan secara istimewa oleh Abraham. Waktu tengah hari, 3 orang tamu dijamu dengan makan siang ditempat istirahat dibawah pohon. Hal ini mengesankan bahwa Abraham menjamu 3 orang tamunya seperti disebuh taman yang sejuk ketika siang hari panas terik. Jadi pelayanan Abraham dilakukan dengan sikap kerendahan sebagai seorang hamba dan pelayanan Abraham sungguh-sungguh memuaskan. Abraham melakukan ini karena dia memandang 3 orang yang bertamu kerumahnya merupakan orang-orang yang terhormat dan sebagai orang yang beriman maka sudah seharusnya dia melayani sesamanya dengan baik. Abraham tidak menduga bahwa sikap rendah hati sebagai seorang hamba dan pelayanannya yang baiknya memberi berkat yang luar biasa, sebuah mukjizat dimana Sara yang sudah tua akan memiliki anak tahun depan. Hal yang sulit dipercaya oleh manusia. Dari situ, kita dapat mengetahui bahwa 3 tamu Abraham, salah satunya adalah manifestasi Allah dalam rupa manusia dan dua orang lainnya adalah malaikat dalam rupa manusia. Abraham pada mulanya tidak mengetahui bahwa mereka itu adalah Allah dan malaikat.
  3. Pelayanan juga dilakukan oleh Paulus (Kolose 1 : 24 – 28). Paulus dengan sekuat tenaga berjuang supaya jemaat-jemaat baru hidup belajar hidup sebagaimana dikehendaki Kristus. Mengingat belum ada model atau contoh bagaimana kehidupan persekutaun dengan Kristus, maka Paulus menunjukkan dirinya sebagai contoh. Salah satu contoh yang ditunjukkan oleh Paulus kepada jemaat Kolose adalah menganggap penderitaan itu sebagai sukacita. Paulus bersukacita karena diberi kesempatan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kristus melayani dan menderita untuk penebusan umat manusia. Setelah Tuhan Yesus naik kesorga, penderitaan Kristus masih tampak dalam diri Paulus. Dengan mengalami penderitaan berarti Paulus menggenapkan dalam dirinya apa yang kurang dalam penderitaan Kristus. Penderitaan Paulus adalah tantangan, hambatan, ancaman, dan hukuman dari dunia ketika mengabarkan injil Kristus dan harus berjerih lelah pada saat mendirikan jemaat dan memelihara jemaat Tuhan. Paulus tidak hanya mengabarkan Injil dengan kata-kata atau kotbah, Paulus juga menyertakan dirinya sebagai bukti kebenaran. Paulus juga memberikan pelayanan tentang bagaimana membangun persekutuan jemaat supaya tetap satu meskipun banyak anggota. Pelayanan yang dilakukan Paulus dimaksudkan supaya jemaat benar-benar  menjadi satu tubuh Kristus yang tampak jelas baik dalam suka maupun duka. Tubuh Kristus tampak dalam kehidupan jemaat sehari-hari. Wujud penampakan itu adalah sikap hidup yang membawa sukacita kepada sesama, tetap bersuka cita ditengah penderitaan, menjadi teladan bagi masyarakat
  4. Pelayanan juga dilakukan oleh Maria dan Marta (Lukas 10 : 38 – 42). Dalam periokop ini kita mengetahui ada dua jenis pelayanan yang dirangkum dalam satu cerita. Pelayanan ada dua jenis, yakni pelayanan firman dan pelayanan meja. Pelayanan firman membutuhkan para pendengar firman. Maria menempatkan dirinya sebagai pendengar firman. Sementara itu, pelayanan meja dilakukan Marta dengan kesibukan luar biasa. Marta menyediakan semua fasilitas makan dan minum. Marta menganggap Tuhan Yesus adalah tamu istimewa yang telah berkorban dengan berjalan dari Yerussalem menuju kerumahnya. Bagi Marta, Tuhan Yesus tentunya lelah. Oleh karena itu, Marta ingin menguatkan fisik Tuhan Yesus dengan memberi makanan dan minuman. Maria dan Marta tidak tahu apa tujuan Tuhan Yesus datang kerumahnya. Namun sesampainya dirumah Maria dan Marta, ternyata tujuan utama kehadiran Tuhan Yesus adalah memberitakan firman Tuhan. Kristus sebagai tamu yang berperan sebagai pemberita firman Tuhan, tentunya yang lebih dibutuhkan adalah pendengar firman. Oleh karena itu, sikap Maria yang mendengarkan firman Tuhan lebih cocok daripada sikap Marta yang sibuk menyiapkan makanan dan minuman. Tuhan Yesus tidak menolak makanan dan minuman yang dihidangkan. Bagi Tuhan Yesus, pelayanan Marta bukan berarti tidak bermanfaat. Bagi Tuhan Yesus, pelayanan Marta tidak salah. Tuhan Yesus ingin menekankan bahwa pelayanan yang kita lakukan sebaiknya memenuhi maksud baik orang yang kita layani dan memberi jalan penyelesaian bagi orang yang kita layani. Tuhan Yesus sebagai tamu yang memberitakan kabar baik maka Tuhan Yesus lebih membutuhkan seorang pendengar firman. Ditempat lain, dalam Lukas 24 : 41 – 43 ketika Tuhan Yesus datang memperlihatkan diri kepada para murid di jalan ke Emaus, Tuhan Yesus minta makanan, maka para murid memberinya ikan goreng dan Tuhan Yesus langsung memakannya didepan mereka. Sikap melayani yang sesuai dengan keinginan Tuhan Yesus. Dalam mukjizat Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang (Markus 6 : 30 – 44), tampak bahwa Tuhan Yesus juga melakukan pelayanan meja. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mengetahui kebutuhan jemaat. Jemaat tidak hanya membutuhkan makanan rohani, tetapi juga perlu makanan jasmani berupa roti dan ikan untuk menguatkan fisiknya yang seharian mengikuti Tuhan Yesus. Demikian pula, dalam peristiwa Perjamuan Malam atau Perjamuan Kudus (Lukas 22 : 14 – 23) Tuhan Yesus memadukan pelayanan firman dan pelayanan meja. Tuhan menggunakan perjamuan meja berupa roti dan anggur sebagai sarana untuk mengingat pengorbanan tubuh dan darah Kristus.
  5. Dalam Matius 20 : 28 Yesus menyatakan bahwa dirinya datang sebagai pelayan. Pelayanan Yesus dilakukan dengan memberikan hidup-Nya bagi manusia. Pelayanan Tuhan Yesus dengan memberikan nyawaNya (mati) dikayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia.  Yesus melakukan pelayanan untuk memenuhi dan mewujudkan kasih Tuhan kepada manusia. Dengan kata lain, pelayanan Yesus tidak ditujukan untuk kepentingan Yesus secara manusiawi. Kristus adalah teladan utama bagi pelayanan orang-orang beriman. Pelayanan Tuhan Yesus adalah pelayanan tertinggi dan termulia yang tidak ada bandingnya. Namun demikian, pelayanan Yesus sepanjang hidupnya tidaklah berjalan mulus, tanpa rintangan dan hambatan. Kisah pelayanan Yesus sebagaimana kita terdapat dalam Kitab Injil ternyata banyak mengalami tantangan, hambatan, dukacita, dan pengorbanan.
  6. Dari seluruh bacaan tersebut diatas, maka kita dapat mengetahui bahwa setiap orang beriman harus memiliki sikap hidup melayani, baik pelayanan firman dan pelayanan meja. Sikap hidup melayani sesuai dengan bacaan tersebut diatas memiliki ciri-ciri  antara lain sebagai berikut :

6.1   Sikap hidup melayani adalah pelayanan untuk memenuhi kehendak Tuhan. Kepentingan dan kehendak Tuhan menjadi yang utama dan pertama dalam pelayanan kita. Setelah itu, memenuhi kepentingan yang baik dan benar pada pihak lain yang kita layani. Kepentingan diri sendiri sebagai hal yang terakhir dan bersifat minimalis, atau tanpa pamrih.

6.2   Sikap hidup melayani adalah sikap hidup yang peduli kepada orang lain. Peduli kepada sesama manusia yang membutuhkan. Kepedulian tersebut dilakukan dengan mengganggap setiap orang yang datang kepada kita adalah orang-orang istimewa dan kita menerima dengan penuh sukacita. Kepedulian juga dilakukan dengan mengunjungi/mendatangi mereka untuk memberikan kabar sukacita, menguatkan psikis, memberi bantuan materiil, dan membantu kelancaran keinginan mereka yang baik dan benar.

6.3   Sikap hidup melayani adalah gaya hidup yang mau mendengar keluhan mereka yang menderita atau kesusahan (sebagai tempat curhat), setelah itu sebaiknya memberi penghiburan dan saran. Demikian, juga mau mendengar cerita sukses (dimasa lalu maupun masa kini) dari mereka yang sedang bersukacita atau ingin tetap dihargai.

6.4   Sikap  hidup melayani adalah sikap hidup yang memberikan diri bermanfaat bagi pihak lain. Semakin banyak diri sendiri bermanfaat bagi orang lain maka akan semakin banyak kreatifitas dan ide-ide baik yang muncul, dan orang lain akan menerima manfaat atas ide dan  kreatifitas kita. Didalam pikiran kita akan selalu terus-menerus bertanya ”apakah yang dibutuhkan oleh orang lain  yang dapat saya sediakan ?”, itulah pertanyaan yang bersifat melayani. Kalau kita benar-benar dapat menyediakan diri, atau malah menyediakan alat-alat, atau kemudahan-kemudahan orang lain sesuai dengan prosedur maka kita akan dapat menjadi pelayan yang baik.

6.5   Sikap hidup melayani adalah bersedia berkorban dalam pelayanan. Berkorban waktu, tenaga, pikiran, dana, peralatan, dan sebagainya harus dilakukan dengan penuh sukacita. Tidak ada tempat bagi gerutu, menyesal, atau keluh kesah dalam pelayanan. Pengorbanan dalam pelayanan dilakukan dengan hati yang tulus ikhlas lahir batin.

6.6   Sikap hidup melayani adalah sikap merendahkan diri. Diri sendiri ditempatkan pada posisi yang rendah. Orang yang dilayani dianggap berada pada posisi yang lebih tinggi. Merendahkan diri sebagai seorang pelayan tidak dilakukan atas perintah orang yang dilayani, tetapi merendahkan diri atas kemauan sendiri, atas kerelaan  diri sendiri. Sikap merendahkan diri bukan berarti menjadikan diri sebagai orang rendahan atau tidak berguna. Justru sebaliknya, merendahkan diri adalah bukti bahwa kita siap sedia memberi yang terbaik kepada orang lain. Bagi bawahan sikap rendah diri adalah memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Bagi atasan sikap rendah diri adalah menciptakan suasana yang harmonis dengan dan diantara para bawahan, jujur, terbuka, dan lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan bawahan. Atasan dan bawahan harus sama-sama merendahakan diri sebagai pelayan supaya kehidupan organisasi damai sejahtera, supaya organisasi tetap bertahan (tidak bangkrut), supaya kepercayaan, relasi, dan keuntungan meningkat, supaya nama baik tetap terjaga, dan sebagainya.

6.7   Sikap melayani adalah pelayanan yang tahan uji. Melayani dengan tahan uji adalah tetap melayani dengan tulus ikhlas dan sukacita dalam situasi dan kondisi apapun. Pelayan yang mampu mengalahkan segala godaan, tantangan, dan hambatan. Sikap melayani yang tahan uji, pertama adalah mampu mengalahkan perasaan bahwa pekerjaan melayani adalah pekerjaan yang tidak terhormat, pekerjaan yang rendahan yang identik dengan pembantu. Dengan kata lain, pelayan harus mampu mengalahkan godaan untuk menjadi tuan, menjadi orang yang dilayani. Pelayanan yang tahan uji, kedua adalah bersedia menerima kritik, tidak sakit hati apabila dikritik. Sebaliknya, tidak termotivasi untuk mendapat pujian, dan kalau mendapat pujian tidak besar hati. Pelayanan yang tahan uji, ketiga adalah tetap semangat menjalankan pelayanan meskipun orang/anggota jemaat yang dilayani miskin, bodoh, terbelakang, kaya raya, pandai, pejabat tinggi, pernah mengecewakan sang pelayan, judes, malas, seenaknya sendiri, pemarah, dan sebagainya.

6.8. Sikap melayani adalah pelayanan yang cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Pelayanan membutuhkan kreativitas dan ketulusan hati. Latar belakang orang yang dilayani, kebutuhan orang yang dilayani, dan tujuan pelayanan kita menjadi dasar bagi perbedaan kreativitas dan seni dalam pelayanan. Bagaimana berbicara, bagaimana melakukan pendekatan, situasi apa yang tepat, dan materi apa yang kita bawa dalam pelayanan akan berbeda-beda atas dasar karakterisitik orang yang kita layani. Cara melayani orang/jemaat yang tidak/ berpendidikan rendah berbeda dengan melayani orang/jemaat yang bergelar doktor. Cara melayani orang muda berbeda dengan orang tua, cara melayani orang Jawa Tengah berbeda dengan cara orang Madura, dan sebagai. Seorang Guru Besar (emiritus) yang terbaring sakit dirumahnya terharu setelah menerima pelayanan dari salah satu anggota jemaat. Beliau menyatakan bahwa ”baru sekali ini di bisa merasakan pelayanan yang luar biasa” setelah dia mendapat informasi bahwa sang pelayan itu adalah seorang lulusan SMP yang bekerja sebagai tukang kebun karena pada saat pelayanan itu pendeta sedang pelayanan di luar kota. Padahal yang dilakukan pelayanan hanya membacakan kitab suci, membacakan renungan harian, dan bersaksi  tentang sukacita hidupnya sebagai seorang tukang kebun.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.